Posts

Mengaji

Halo...  Sudah berapa lama aku tidak mengunjungi blog ini, aku sudah lupa bahkan untuk mendownload aplikasinya. Bagaimana kabarku? Alhamdulilah baik. Jauh dari kata sempurna atau malah menurun hidupku tapi aku masih bertahan sampai saat ini. Sudah lama sekali aku tidak mengaji, lama nya lama sekali bahkan aku sudah lupa kapan terakhir kali. Mulutku seakan kelu membaca Al Quran mungkin karena aku sudah terlalu sering mengatakan hal hal buruk. Hati ku rasanya sedih sekali, seperti tersadar kenangan masa kecil saat aku belajar mengaji setiap sore. Kenangannya tibatiba berputar dan membuatku sedih sekali. Bukan kehidupan mewah yang aku rindukan tapi penyesalan terbesarku kenapa saat aku masih kecil tidak rajin mengaji. Aku kangen, kangen sekali dengan kenangannya yang ingin selalu ku ulang. Dulu agama begitu dekat denganku tapi kenapa saat aku tumbuh dewasa penuh dengan kebencian dan semakin jauh akan Tuhan.  Ada hal hal besar yang sedang aku nanti, aku memohon untuk di lancarkan ...

Bingung

Di era yang semakin maju ini aku makin menyadari perputaran waktu sangatlah cepat. Semua hal berubah. Manusia dan waktu; perubahan yang tak bisa dihentikan.  Usia ku 24 tahun ini. Banyak hal yang ku lalui. Teman ataupun keluarga aku rasa aku tidak punya. Semua ada masanya, aku menyebutnya frekuensi.  Saat ekonomi ku berada, keberadaanku seperti magnet. Entah dimana aku berada aku selalu dikelilingi semuanya. Satu yang aku pahami, keluargaku sudah lama pergi. Aku bukan lagi magnet yang menarik semua orang untuk mendekat. Hanya batu kerikil yang kadang menjadi sandungan orang lain berjalan. Entah harus sedih atau marah. Saat orang lain memutuskan hubungan denganku aku tidak lagi meronta menangis kesepian. Aku seperti sudah terbiasa ditinggalkan keluargaku. Perasaan ini, bahkan hambar saat orang lain mencaciku. Aku tidak marah atau pun menangis lagi, apa karena aku sudah terbiasa? Aku sudah tidak mau menyalahkan siapapun. Saat orang lain marah padaku, bukan tanggung jawabku untuk...

Teman?

Lebih baik disalahpahami daripada menjelaskan panjang lebar hanya untuk membentuk persepsi baru. Tidak akan ada yang mengerti. Percuma. Lebih baik dianggap jahat daripada harus menjelaskan yang sebenarnya. Teman seperti apa? Yang didepanmu begitu ramahnya tapi kau tahu ia yang sebenarnya.

Hatiku

Hidupku saat ini rumit, mumet. Segala hal terasa sukar dijalani. Pun dengan rasa syukur yang semakin menipis tiap hari. Tapi dari segala kelelahan hidup, saat aku melihatnya dengan pacar barunya. Aku selalu bisa tertawa. Bebanku seakan berkurang setengahnya. Ah, aku bahagia bisa terlepas darinya. 

not [more] family. just you.

Untuk kau yang sedang berbahagia Aku melihat fotomu, tersenyum manis di tempat yang sedang ngetrend belakangan ini. Kuakui pemandangannya bagus sekali. Bagaimana hidupmu? Senangkah? Entah aku harus menyebutmu dengan sebutan apa, karena bagiku semua sudah tidak ada artinya lagi. Aku sedih sekali melihat orang yang sama keadaanya denganku bisa sangat berbeda responnya. Masalahnya lebih besar dariku, bila aku dibilang jahat ia pun lebih jahat, tapi ia masih punya keluarga. Ia masih punya keluarga yang menunggunya pulang, ia bisa mengupload fotonya setiap hari tanpa takut fotonya bisa untuk menyakiti. Aku iri. Kau berbeda. Kau tidak menungguku untuk pulang. Bahkan kau tega menjual nyawaku ke orang lain demi uang, kau tega memfitnahku habis-habisan hanya untuk menguasai hartaku. Bahkan sampai detik ini nyawaku masih jadi rasa penasaranmu, kenapa aku masih saja hidup. Aku marah. Tapi jika aku marah aku akan dibilang tidak tahu diri, tidak tahu bersyukur, tidak belajar ikhlas. Sekelilin...

picture

Halo, apa kabar? Kabarku lumayan baik hari ini. Aku mengambil libur sehari untuk menenangkan pikiranku yang kalut beberapa bulan ini. Aku memilih menepi sebentar, dari hiruk pikuk rutinitas yang membelenggu ku.  Beberapa bulan ini aku kesulitan. Kejadian buruk banyak menimpaku ditengah himpitan ekonomi yang tidak stabil akhir akhir ini. Aku sering menangis, seperti anak kecil terisak isak dipelukan ibuku. Usapan tangan lembutnya saat menenangkanku bahkan tak mampu membuatku lebih baik kemarin. Sampai dititik aku dipeluk mereka  yang seharusnya tak ada disekitarku. Menawariku jalan pintas. Aku selalu bersyukur tumbuh dalam keluarga ini. Memilih pergi cepat memang bukan solusi terbaik.  Aku sampai dititik kelamku. Keputusasaanku yang semakin menghimpitku. Sesak dan penuh. Dosa besar yang telah aku lakukan hingga aku mendapatkan semua ini. Ya, aku mengakuinya.  Sedari malam, jangkrik listrik ku berbunyi terus minta diberi makan. Semakin membuat kurus dompetku. Sebagai r...

Jumat, 5 November 2021

Apapun yang terjadi padaku hari ini aku tidak berhak menyalahkan siapa pun. Bukan salah orang tua, bukan pula salah keadaan.  Jangan takut akan pandangan manusia. Selagi aku menjadi orang baik yang jujur, apapun keadaan baik dan buruknya asal aku bersyukur mudah-mudahan menjadi pahala untuk ku. Jangan pula menjadi iri atas kepunyaan orang lain. Aku sungguh rindu pada diriku dimasa lalu yang bersih hatinya;  belum tumbuh iri dan dengki. Tidak apa-apa, perlahan saja untuk berubah. Manusia selalu berbolak balik hatinya, aku memohon semoga aku selalu dalam keadaan bersabar dan bersyukur.  Aku ingin menjalani hidupku menjadi lebih baik lagi, aku ingin menjadi manusia yang baik dan pemberani, aku ingin berdiri tegar walau sering kali ingin menyerah dan pergi. Tapi kini aku yakin aku bisa menghadapi semua nya ini. Mungkin hari ini aku menangis sangat banyak di depan banyak orang, tapi semoga kedepannya hanya bahagia yang aku rasa.