Posts

Showing posts from May, 2017

Petang

Petang ini, langit tampak sendu. Ia tidak meneteskan air matanya, namun aku tau ia berduka. Petang ini, kujalani hidupku yang baru. Aku jadikan ini pelajaran hidupku. Petang ini, aku mencoba mengadu nasibku. Untuk rupiah yang dihargai lebih tinggi dari harga diri, katanya jika tidak punya uang kau tidak dihargai. Petang ini, aku tersenyum melayani pembeli pertamaku. Katanya aku harus ramah biar berkah. Petang ini, aku duduk diluar melihat langit tinggi. Menunggu waktu giliran shalatku.

Seni

Seni, apa kabarmu? Aku sudah lupa kapan kali terakhir kita berbicara atau sekedar mengirim pesan singkat di sosial media, namun aku selalu berharap kau selalu sehat dan bahagia. Seni, entah aku tak tahu kenapa hanya kau yang selalu terbayang-bayang dalam benakku. Hanya kau yang aku rasa sebagai teman dekatku. Hanya kau yang seringkali menjadi alasan atas tangisan kesepianku. Seni, aku sedih. Aku takut kau melupakanku. Aku marah. Aku tau aku tak berhak. Seni, kamu alasan dari setiap tangisan dan doaku pada Tuhan akan permintaanku bisa kembali pulang. Bukan karena aku rindu rumahku yang dulu, bukan aku rindu tempat dimana aku dilahirkan dan tumbuh, bukan karena aku rindu keluargaku, bukan karena aku rindu kehidupanku yang dulu, aku hanya rindu bisa bertemu denganmu dan teman-teman yang lainnya. Seni, betapa kesepiannya aku menangis setiap hari. Menanggung semuanya sendiri berharap ada teman disisiku yang menyemangatiku setiap waktu. Aku seringkali hampir menyerah pada kehidupan, tapi...

Pulang

Pada setiap tanya akan kepulanganku, aku sendiri pun bertanya apa aku mampu? Dan lautmu yang selama belasan tahun mendekapku kini perlahan hilang hingga menjadi kenang. Aku bertanya-tanya sudah menjadi apa kini kampung halamanku yang digadang-gadang telah tumbuh semakin asri. Ratusan hari aku menangisi kepergianku meninggalkan semuanya yang mengikatku, laut, keluarga, pendidikan, dan teman-temanku. Hatiku patah, rasanya sakit tak terkira. Remuk redam mimpiku dihancurkan dalam sekejap. Hidup yang selalu kubanggakan melemparku ke dasar jurang tanpa persiapan. Tapi tidak apa, manusia tumbuh dengan luka. Kadang saat aku mendengar lagu-lagu di handphoneku pikiranku seperti terbang meninggalkan kenyataan. Lari pada kenangan yang samar-samar telah terlupakan, membangkitkan nyeri yang ada didada. Berkecamuk dan bercakap tiada henti, sangat ramai dipikiranku sendiri. Kadang aku menangis diam-diam. Mengelap air mata yang bahkan tak sempat jatuh di pipiku, aku tidak suka saat orang lain melih...