Seni
Seni, apa kabarmu? Aku sudah lupa kapan kali terakhir kita berbicara atau sekedar mengirim pesan singkat di sosial media, namun aku selalu berharap kau selalu sehat dan bahagia.
Seni, entah aku tak tahu kenapa hanya kau yang selalu terbayang-bayang dalam benakku. Hanya kau yang aku rasa sebagai teman dekatku. Hanya kau yang seringkali menjadi alasan atas tangisan kesepianku.
Seni, aku sedih. Aku takut kau melupakanku. Aku marah. Aku tau aku tak berhak.
Seni, kamu alasan dari setiap tangisan dan doaku pada Tuhan akan permintaanku bisa kembali pulang. Bukan karena aku rindu rumahku yang dulu, bukan aku rindu tempat dimana aku dilahirkan dan tumbuh, bukan karena aku rindu keluargaku, bukan karena aku rindu kehidupanku yang dulu, aku hanya rindu bisa bertemu denganmu dan teman-teman yang lainnya.
Seni, betapa kesepiannya aku menangis setiap hari. Menanggung semuanya sendiri berharap ada teman disisiku yang menyemangatiku setiap waktu. Aku seringkali hampir menyerah pada kehidupan, tapi aku bertahan supaya suatu hari nanti kita bisa bertemu.
Seni, kamu tau setiap doa dalam shalatku? Aku selalu berdoa kepada Tuhan supaya aku bisa sukses seperti kalian walaupun aku tidak lulus sekolah, walaupun jalan hidupku yang berbeda dengan teman-temanku.
Seni, aku meminta maaf karena pernah sangat marah padamu. Aku marah akan kediamanmu. Aku marah karena aku merasa kau menghilang saat aku jatuh. Aku marah karena aku berfikir kau sama saja seperti yang lainnya. Aku meminta maaf atas marah tak berdasarku. Aku mengerti, kau punya hidupmu sendiri. Aku mengerti, mungkin kau memberiku waktu untuk sendiri. Aku mengerti, mungkin kau tak ingin menyakitiku dengan menghubungiku lagi. Aku mengerti, mungkin kau takut membuka luka lama lagi. Aku mencoba mengerti.
Seni, sudah berapa hari aku pergi? Sudah berapa jauh aku berlari? Aku pun tak tau. Namun rasanya seperti baru saja terjadi. Aku melihatmu terakhir kali lewat celah gordyn. Melihat apa kau sudah pergi atau belum. Satu yang ku sesali sampai kini, kalau saja hari itu aku tau aku akan pergi mungkin aku akan memelukmu, aku akan mengatakan selamat tinggal, mungkin aku akan menangis bersama denganmu demi mengurangi sakitku. Andai saja waktu bisa terulang kembali.
Seni, kini aku bahkan tak tau bagaimana kabarmu. Kita sama-sama menghilang bagai hantu. Menjalani hidup kita masing-masing.
Seni, beribu-ribu terimakasih yang ingin aku ucapkan atas setiap waktu yang pernah kita lalui, atas segala kekurangajaranku selalu merepotkanmu dengan mengikutimu kesana kemari, atas masa-masa indah diputih abu-abuku, atas pertemanan yang selalu membekas dihatiku, atas kebahagian yang selalu tercipta disaat kita bersama, atas segala pelajaran hidup dan nasihat, atas segala doa yang kau ucapkan dengan tulus untukku.
Seni, aku selalu rindu naik motor denganmu saat pulang sekolah. Aku rindu saat kita tertawa-tawa sepanjang jalan. Aku sangat rindu melihat jalanan yang dipenuhi rumput liar disisi-sisinya. Aku sangat rindu saat aku berkaca di helm mu. Aku sangat rindu saat aku hanya tertawa setiap menjawab pertanyaanmu karena telingaku tak mendengar apa pertanyaanmu karena aku pakai helm. Aku sangat rindu saat pulang sekolah kita seringkali ke pasar membeli ini dan itu, memakirkan motor diseblah vcom supaya tak bayar parkir. Aku sangat rindu saat kita ke warnet bersama-sama untuk mengerjakan tugas atau berenang saat pelajaran olahraga. Aku bahkan masih ingat jawabanmu saat aku bertanya kenapa kamu kuat lama di dalam air, kau bilang 'makanya banyak ngaji' yang diakhiri dengan tertawa dan berkata bercanda. Kamu bahkan tak tau itu menohok hatiku. Kau, dan hidupmu yang dekat dengan Tuhan selalu membuatku iri.
Seni, aku ingin sekolah. Aku ingin lulus bersama denganmu. Aku ingin mencapai mimpi kita bersama-sama.
Seni, tadinya aku tak berani menuliskan ini. Hatiku selalu sakit saat mengingatmu dulu dan kini, tapi sekarang aku ingin menulis ini.
Seni, yang sekarang entah sedang apa dan dimana. Aku selalu bermimpi suatu hari aku bisa pulang dan bertemu denganmu. Aku juga ingin bertemu dengan teman-teman yang lainnya. Aku harap doaku ini kau aamiini juga, dan aku harap segala doaku segera terkabul.
Seni, doakan aku ya, doakan semoga masalahku cepat selesai. Doakan supaya aku selalu sehat sehingga bisa bertemu denganmu lagi, doakan supaya aku sukses.
Seni, kau dan yang lainnya doaku tak pernah terputus mendoakan agar kalian selalu sehat dan berbahagia.
Di perasingan, Rabu, 10 Mei 2017
Salam rindu,
Si Amatir.
Comments
Post a Comment