Posts

Showing posts from October, 2015

Engkau Tahu Tuhan

Aku tak pernah semarah ini. Marah pada apapun bahkan hal-hal kecil. Marah pada keadaan. Marah pada diri sendiri. Marah pada orang-orang di sekelilingku. Marah pada orang-orang yang aku sayangi bahkan terkadang aku marah pada Tuhan. Membuatku mudah menangis namun tak bisa apa-apa. Ingin aku maki satu persatu orang-orang yang membuatku kesal namun bukan makian yang ku keluarkan tapi air mata. Aku marah karena aku begitu lemah. Bahkan mengungkapkan kekesalan yang memuncak di hati saja aku tak mampu. Diamku diartikan tak berani padahal hatiku sudah memaki beribu kali, sangat ingin aku tampar berkali-kali mulut kotor mereka, tangan kotor mereka, wajah memuakan mereka hingga mereka diam. Ingin sekali aku sumpal mulut busuk mereka, aku sobek hingga tak bisa tertawa mengejek lagi. Ingin sekali. Andai aku setega mereka. Aku tak pernah sebenci ini sebelumnya. Benci pada apapun dalam hidupku. Disakiti belasan tahun pun. Aku tak pernah sebenci ini. Entah sejak kapan sekarang aku selalu mengingat ...

BUMERANG

Mulut itu gunanya buat makan, bicaranya yang baik bukan gosip dan fitnah orang lain. Jangan sok tahu semua hidup orang lain. Tau apa kalian. Tau apa sampai kalian menghujat kami? Iri karena dulu kami tidak punya apa-apa bisa jadi gini lalu kalian gunakan cara setan untuk menyakiti kami? Jika ingin sukses itu kerja keras dan selalu berdoa minta sama Allah bukan sama setan. Saat mati kubur semua harta kalian masukan sekalian motor, uang, gelang, emas, baju atau yang lainnya yang kalian banggakan jika demi harta kalian tega menyakiti kami. Tak adakah hati kalian hingga berusaha mati-matian membunuh kami secara perlahan? Kalian pikir kalian Tuhan yang bisa menentukan hidup mati seseorang? Kalian hanya iblis di mataku. Manusia takkan setega itu. Silahkan tertawa terbahak-bahak menertawakan kesusahan kami sekarang semoga kalian tak serangan jantung saking senangnya. Silahkan hina kami miskin atau apa bodoamat. Rezeki ku jalan Allah. Aku tidak makan dari hasil mencuri hak orang lain. Aku ...

Jika Kebahagiaanmu

Jika kebahagiaanmu dengan menyakiti orang lain, tunggu sampai kau merasakan sendiri rasanya disakiti orang lain. Tunggu sampai apapun yang kau lakukan semua berbalik kepadamu tak terkecuali. Jika kebahagiaanmu dengan menjatuhkan orang lain, tunggu sampai kau dijatuhkan lagi oleh orang lain. Tunggu sampai kau jatuh sejatuh-jatuhnya tanpa ada pegangan. Jika kebahagiaanmu dengan membunuh orang lain. Tunggu sampai kehidupan membunuhmu secara perlahan, mengintip dari celah waktu yang kau sia-siakan. Jika kebahagiaanmu dengan membuat sakit orang lain. Tunggu sampai kau sakit tak berujung karena kelakuanmu. Sampai kau merasakan sakit teramat sangat hingga putus asa. Mungkin karena itu kau bisa tau rasanya sakit yang orang lain rasakan karena perbuatanmu. Jika kebahagiaanmu dengan mencuri hak milik orang lain. Tunggu sampai semua milikmu hilang tak tersisa. Hingga kau merasa putus asa. Mungkin dengan itu kau bisa tau bagaimana perasaan orang lain yang kau curi haknya. Jika kebahagiaanmu d...

KARMA

Aku marah. Hidup seperti mempermainkanku, lucu sekali. Saking lucunya bukan tawaku yang terdengar namun tangisku. Aku marah. Aku marah hanya pada diriku sendiri. Mengapa aku begitu lemah. Lemah sampai orang-orang menghinaku. Marah karena yang bisa aku lakukan hanya tersenyum dan diam-diam menangis sendirian. Aku sungguh muak dengan diriku sendiri. Aku muak harus pura-pura tersenyum di saat aku ingin menangis, aku muak harus pura-pura kuat. Ah aku sungguh marah. Untuk hari-hariku yang terbuang sia-sia dengan memikirkan hal-hal konyol. Apa lagi? Mau apa lagi? Tidakkah kau lihat betapa menderitanya aku hah? Haruskah aku teriak meneriakan semua kebusukan mu? Haruskah aku bongkar semua kebejatanmu? Haruskah aku bilang semua yang kau tutupi? Aku sungguh muak, kepada siapapun yang telah menyakitiku. Aku sungguh muak selalu kau sakiti. Aku sungguh muak akan akan kepura-puraanmu. Perlukah aku bongkar dari mana uang yang kau hasilkan? Agar mulutmu tidak selalu menghina orang lain. Perlukah ...

Jangan Melihat Orang Lain Dari Luarnya

Orang yang suka ngejahatin orang lain itu pantasnya memang harus didoakan. Di doakan semoga bahagia hidupnya, banyak duit, sering piknik, makan yang enak-enak, tidur yang nyenyak biar nggak ngerebut kebahagiaan orang lain. Orang yang kayak gitu yang harus dikasihani, kenapa? Karena hidupnya selalu dalam bayang-bayang orang lain. Ngeliat orang itu emang jangan dari luarnya. Mungkin kata-kata yang klise tapi itu bener. Misal nih sebut saja si A dia orang nya ahli ibadah tau mana yang bener mana yang nggak tapi karena iri malah jahatin orang lain. Orang awam atau orang yang nggak ngalamin kejahatan dia pasti nggak bakal nyangka aslinya kayak gimana, mikirnya masa sih si A kek gitu dia kan ibadahnya rajin, shalat tepat waktu masa ngelakuin itu sih. Atau si B dia orang terpandang, baik, ramah, kaya tapi kita nggak tau kan hatinya kayak gimana bisa aja hatinya busuk, penuh iri dengki, susah ngeliat orang lain senang dan senang ngeliat orang lain susah. Dari contoh tersebut kita bisa belaja...

Sehari Saja

Sehari saja aku ingin libur dari pikiranku sendiri. Sehari saja aku ingin libur dari orang-orang yang sok tahu. Sehari saja aku ingin libur dari orang-orang yang menyebalkan. Sehari saja aku ingin libur dari orang-orang yang sok pintar. Sehari saja aku ingin libur dari orang-orang yang jahat. Sehari saja aku ingin libur dari orang-orang yang sok benar. Sehari saja aku ingin libur dari orang-orang gila. Sehari saja aku ingin libur dari kesedihan. Sehari saja aku ingin libur dari semua masalah. Sehari saja aku ingin tertawa tanpa beban. Sehari saja aku ingin benar-benar bahagia. Sehari saja jika selamanya tidak memungkinkan Tuhan..

Sampai Kapan?

Sekali saja aku ingin libur dari pikiranku sendiri. Merasa tenang dan tanpa beban. Sebut aku pengecut, tapi untuk saat ini andai aku bisa memilih untuk  tidak mengetahui apa-apa. Merasa bahwa semua telah usai bahwa badai telah berlalu. Aku hanya butuh menyepikan pikiranku aku tak butuh pasar malam yang aku butuh hanya ketenangan. Yang aku butuh adalah kebahagiaan. Mengapa rasanya semakin sulit saja. Aku rindu tertawa. Aku rindu rasa bahagia.
Aku masih ingat hari yang kelam itu. Hari dimana mimpi-mimpiku serasa runtuh. Rasanya seperti kemarin. Betapa waktu begitu lucu. Menjatuhkanku lalu membuatku semakin tangguh.
Sesekali aku ingin masuk ke kepalamu. Menyelam lautan pikiran yang tak ku tahu. Mencari jawaban atas semua harapanku.

Hanya Isyarat

Aku hanya ingin bisa menyimpannya hanya untuk diriku sendiri sampai senyum ini tak bisa untuk aku hilangkan. Untuk seseorang yang hanya wajah acuhnya saja mampu membuatku tertawa. Untuk seseorang yang aku tak tahu apa pikirannya. Untuk seseorang yang aku biarkan hanya sebatas impian. Aku hanya ingin bisa menyimpannya untuk diriku sendiri. Sebelum bibir ini lancang membicarakannya tanpa henti. Aku hanya ingin bisa menyimpannya sendiri.