Posts

Showing posts from May, 2018

Setitik Cahaya

3 tahun hampir berlalu, daripada menghitung luka kali ini aku ingin menghitung bahagia. Dewi, tiga tahun lalu kamu hanya anak anti sosial. Jarang keluar rumah, tidak tahu siapa saja tetanggamu, tidak pernah kemana-mana, terkurung dalam kamar dengan imajinasi liarmu. Aku tidak akan menyalahkanmu sepenuhnya, tapi andai saja kamu berani keluar dari zona nyamanmu mungkin kamu akan merasakan masa-masa sekolah yang menyenangkan. Terlepas dari masa lalu, aku bangga padamu sekarang. Aku bangga bagaimana sekarang kau sudah bisa berbaur dengan orang lain, bisa bekerja, bahkan untuk hal kecil saja sekarang kamu berani berangkat dan pulang sendirian sampai malam, untuk anak yang dari sd sampai smk diantar jemput, takut naik kendaraan umum, takut bertemu orang lain, perubahan kecilmu membuatku bangga. Dewi, tiga tahun lalu kamu hanya anak gadis yang cuek dengan penampilan. Gendut dan jerawatan. Terlalu malas bahkan untuk menggosok baju sekolahmu. Kau juga tak jarang malas menyisir rambut panjangm...

Pintu Kemana Saja

Manusia selalu ingin kembali ke masa lalu, ingin merasakan hal yang sama, ingin mengulang apa yang dirasakan hati; perasaan rindu yang entah muncul dari mana. Mengulang memori yang kejadiannya saja sudah berlalu bertahun-tahun lamanya. Perasaan aneh yang selalu sukses membuka kenang. Potret tawa pada ponsel jadulku, ingin ku hapus saja semuanya. Tapi bagaimana bila nanti aku rindu lagi? Apa yang bisa menyelamatkanku selain foto-foto kita dulu? Terasa begitu aneh saat kita semua sudah tumbuh dewasa dengan jalan masing-masing tapi aku masih disini, diam ditempat dan menginginkan seperti dulu. Seperti ada yang menahanku untuk berjalan, apa karena hatiku belum ikhlas dengan benar? Kemunafikanku yang mengatakan aku baik-baik saja, aku bahagia, nyatanya aku masih seperti semula. Aku masih sama. Katanya, katanya, tapi apa yang bisa mendahului rencana Allah? Aku masih disini, ditempat yang sama. Mempercayai bahwa semua akan indah pada waktunya.

Hitam

Mengurung kebencian bertahun-tahun lamanya, untuk apa? Kepada hati kecilku, jiwa lemah yang sering kali berlagak kuat, apa sebenarnya yang kau inginkan? Memaafkan akan menyembuhkan hatimu, aku mengerti sulit jika kau terus terluka tapi sulit bukan berarti tidak mungkin. Dewi, maafkan mereka. Maafkan dirimu terlebih dahulu. Sebesar apapun luka yang menganga jika kau belajar lebih keras untuk ikhlas bukan tidak mungkin kau akan sembuh. Membenci hanya akan membuat jiwamu ringkih luar dalam. Aku tahu kau sakit, kau sedih, kau marah, tapi itu tidak ada gunanya. Membenci mereka, mengutuk mereka tidak akan membuat hidupmu lebih baik. Kau hanya akan berakhir sebagai pembenci. Hidup memang berat, tapi akan ringan rasanya jika kau ikhlas. Begitu mudah untuk menasehati orang lain, tapi diri sendiri tidak di beri nasihat. Sulit untuk mengubah orang lain, tapi kau bisa untuk merubah dirimu sendiri.

Losing

Hari ini aku ingin melupakan semuanya, amarah dan masa laluku. Aku jatuh. Aku merindukan lautan. Hidup tenang dipegunungan atau melihat lautan luas; dua-duanya tak aku dapatkan. Air mata kadang begitu melelahkan. Bosan dengan hidup tapi aku tahu ada yang sedang berjuang mati-matian untuk tetap hidup. Aku tahu aku menjadi manusia yang tak bersyukur tentang kesempatan hidup. Perasaan sedih yang aku rasakan sekarang, terngiang masa lalu, dan membenci orang-orang di sekelilingku. Aku mengutuk semua orang tapi seperti meminum racun kepada diri sendiri aku menginginkan mereka merasakan penderitaan yang aku rasakan tapi yang mati malah diriku. Merasa menjadi manusia gagal. Kehidupan yang tak menarik. Tiap hari terkena santet dan guna-guna, perasaanku sudah mati rasa. Aku sudah lelah bahkan untuk membenci mereka. Tetangga ataupun keluarga. Aku hanya hidup sendirian didunia ini jika tak ada orang tuaku. Aku lelah menghadapi kemunafikan mereka. Keluarga yang hangat di luar namun begitu menge...

Iblis Dalam Bentuk Nyata

Ada yang hilang dalam diriku; Manusia. Setipis apa batas baik dan buruk? Satu hal yang aku tahu; keluarga besar adalah pembunuh nomor satu. Kau tahu apa yang hilang? Rasa percayaku.