Setitik Cahaya

3 tahun hampir berlalu, daripada menghitung luka kali ini aku ingin menghitung bahagia.

Dewi, tiga tahun lalu kamu hanya anak anti sosial. Jarang keluar rumah, tidak tahu siapa saja tetanggamu, tidak pernah kemana-mana, terkurung dalam kamar dengan imajinasi liarmu. Aku tidak akan menyalahkanmu sepenuhnya, tapi andai saja kamu berani keluar dari zona nyamanmu mungkin kamu akan merasakan masa-masa sekolah yang menyenangkan. Terlepas dari masa lalu, aku bangga padamu sekarang. Aku bangga bagaimana sekarang kau sudah bisa berbaur dengan orang lain, bisa bekerja, bahkan untuk hal kecil saja sekarang kamu berani berangkat dan pulang sendirian sampai malam, untuk anak yang dari sd sampai smk diantar jemput, takut naik kendaraan umum, takut bertemu orang lain, perubahan kecilmu membuatku bangga.

Dewi, tiga tahun lalu kamu hanya anak gadis yang cuek dengan penampilan. Gendut dan jerawatan. Terlalu malas bahkan untuk menggosok baju sekolahmu. Kau juga tak jarang malas menyisir rambut panjangmu saat kesekolah. Tapi lihat dirimu yang sekarang, dengan potongan rambut pendek yang kau pertahankan tiga tahun ini, kau berubah untuk dirimu sendiri. Sekarang wajahmu perlahan sembuh dan berat badanmu berkurang banyak. Aku yakin kau akan mengejutkan semua orang.

Dewi, tiga tahun lalu kamu selalu hidup sendirian dalam duniamu dan mengurung diri di dalam kamar selama hampir 6 tahun, kau tidak peduli dengan apa yang terjadi di keluargamu, kau bahkan mempunyai jarak yang tinggi dengan kakakmu, hidup dalam satu rumah namun tidak pernah bersama-sama. Bahkan bisa seharian tidak ada satu obrolan pun dengan keluargamu dan sibuk masing-masing. Tapi lihatlah kau sekarang. Dekat dan saling menguatkan. Berkumpul dengan keluarga tanpa ada jarak. Dewi, ingatlah untuk terus menjaga keluarga mu, yang kau punya hanya mereka; orang tua dan kakakmu. Tidak ada saudara, tidak ada teman. Kita berempat harus saling menggenggam tangan apapun masalah yang kita hadapi. Keluarga sederhana yang hangat, yang obrolan konyolnya menghangatkan hatimu, tidakkah itu begitu membahagiakan?

Dewi, tiga tahun lalu kamu hanya anak malas dan tidak tahu beratnya kehidupan. Akuilah bahwa luka yang paling membuatmu dewasa. Kau mungkin sering menangis tiga tahun ini tapi aku tahu akhirnya kau menyadari apa sebenarnya arti hidup. Aku bangga padamu karena tidak menyerah. Aku bangga padamu karena terus berusaha. Aku bangga padamu karena kau bisa memahami bahwa pulang bukan berarti kembali. Dimana pun kaki mu berpijak disitulah kamu hidup sekarang. Menangisi masa lalu takkan merubah apapun dalam hidup jika tak berusaha sendiri.

Dewi, terima kasih.

Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love