Bingung

Di era yang semakin maju ini aku makin menyadari perputaran waktu sangatlah cepat. Semua hal berubah. Manusia dan waktu; perubahan yang tak bisa dihentikan. 
Usia ku 24 tahun ini. Banyak hal yang ku lalui. Teman ataupun keluarga aku rasa aku tidak punya. Semua ada masanya, aku menyebutnya frekuensi. 
Saat ekonomi ku berada, keberadaanku seperti magnet. Entah dimana aku berada aku selalu dikelilingi semuanya. Satu yang aku pahami, keluargaku sudah lama pergi. Aku bukan lagi magnet yang menarik semua orang untuk mendekat. Hanya batu kerikil yang kadang menjadi sandungan orang lain berjalan. Entah harus sedih atau marah. Saat orang lain memutuskan hubungan denganku aku tidak lagi meronta menangis kesepian. Aku seperti sudah terbiasa ditinggalkan keluargaku. Perasaan ini, bahkan hambar saat orang lain mencaciku. Aku tidak marah atau pun menangis lagi, apa karena aku sudah terbiasa? Aku sudah tidak mau menyalahkan siapapun. Saat orang lain marah padaku, bukan tanggung jawabku untuk menyenangkan semua orang dan mengikuti apa maunya sedang aku harus berpura pura. Aku tidak sebaik itu. Itulah sedikit yang aku paham tentang diriku. Saat keluargaku menyakiti dan membicarakanku di belakang aku sudah tidak meledak seperti aku di usia mudaku dulu. Yang penting adalah orang tuaku. Diluar itu keluarga sekali pun bukan urusanku. Aku juga lebih banyak mengalah daripada harus melontarkan semua isi hatiku. Berbicara pada orang yang membenci juga tidak akan menghasilkan apapun kecuali kebencian baru. 
Di dunia kerjaku, semakin hari aku dibuat untuk bertanya. Haruskah aku bertahan? Bahkan aku bermimpi jika kehidupanku lebih baik mungkin aku tidak akan di jalan ini. Tapi aku harus realistis bangun dari khayalanku. Aku harus bekerja keras supaya bisa bertahan hidup. Aku menjalani hidupku dengan perlahan dan susah payah. Tapi bukankah semua orang punya jalannya masing masing? Persaingan antar karyawan. Bukankah sudah biasa bahkan saat hal hal diluar logika ikut campur. Aku ingin menjalani hariku dengan perasaan tenang tanpa harus bersaing dengan siapapun. Tidak ingin lagi menjadi yang paling bisa di segala hal. Aku harus bisa menghargai diriku sendiri. Tidak ingin berlutut supaya dipuji. Aku menyadari selama ini yang aku dapati hanya aku kelelahan seorang diri. Aku tidak pandai bicara, atau berbasa basi supaya disukai. Aku tidak akan pernah menang melawan orang seperti itu. Maka aku mengerti aku bekerja sebagaimana aku dihargai. Selama aku melakukannya dengan baik entah bagaimana hasilnya aku harus bisa berdamai dengan egoku. Lembaran uang kertas ternyata bisa merubah semua hal termasuk teman temanku. Ralat; rekan kerja. Aku tidak punya satu temanku yang tulus berteman denganku. Mereka berteman karena satu pekerjaan denganku saja. Maka aku sudah terbiasa jika mereka mengatakan setiap kali mengajakku keluar kata tidak selalu keluar dari mulutku. Karena aku mengerti kondisi ku tidak sama dengan mereka. Aku tidak bisa boros dan aku selalu merasa lelah di keramaian. Jadi kalau mereka meledekku karena aku tidak pernah keluar aku hanya bisa tertawa.
Tempat kerja ataupun rumah. Keduanya bukan tempatku bisa merasa tenang dan nyaman. Aku bertanya tanya kemana aku harus berdiri. Diusiaku yang ke 24 ini ternyata aku masih kebingungan. Aku masih belum mempunyai tempat pulang. 

Comments

Popular posts from this blog

picture

It's okay that love