Posts

Showing posts from October, 2017

Lautan Kata Seni

Katamu lautan mengingatkan tentangku. Temanku berkata padaku jika aku tak boleh menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain apalagi teman. Tidak boleh berharap bahwa akan menjadi teman selamanya dan selalu ada saat kita membutuhkan. Katanya, berkabar cukup menanyakan kabarnya beberapa bulan sekali, lalu sudah. Jika mengetahui teman baik-baik saja sudah cukup. Egois katanya bila aku menginginkan ditemani di segala keadaan apalagi berharap dihubungi duluan tanpa berani memulai. Saat kamu menanyakan kabarku lewat instagram kemarin, yang pertama terlintas di kepala ku adalah aku harus mengabaikanmu. Percakapan kita yang panjang yang aku harap dengan bahagia kamu abaikan begitu saja dulu, maka kali ini aku pun harus begitu. Tapi, pagi tadi saat aku sedang dalam perjalanan untuk bekerja tiba-tiba aku teringat perkataan temanku tadi. Dan aku memutuskan untuk membalas pesanmu sekarang. Katamu, kamu habis melihat lautan bersama Mey dan teringat padaku. Bagimu lautan mengingatkan padaku...
Image
Lautan, kataku. Aku ingin kembali pada apa yang aku tinggal pergi. Kapan pulang? tanyanya. Dan pada setiap tanya akan kepulanganku aku sendiri pun bertanya-tanya apa aku mampu. Bukan tak ingin, tapi bagaimana aku bisa kembali jika kepergianku adalah hal yang mereka tunggu-tunggu. Kebahagiaanku adalah ketakutannya dan kesedihanku adalah kebahagiaannya. Pada segala hal yang telah hilang dalam genggamanku, kesehatan adalah nomer satu. Keluarga, katanya. Namun berusaha membunuh saat iri didada kian bergemuruh. Pada akhirnya ranting rapuh telah gugur sepenuhnya pada kepercayaan yang direnggut paksa dalam kata "keluarga".

Jawaban

Aku tau jawabannya. Aku tau, jawaban dari segala pertanyaan yang bertahun-tahun selalu aku tanyakan. Sekarang aku tau. Hidup memang sebuah kejutan yang tak pernah usai. Pada titik dasar saat hanya jurang kegelapan yang kau liat, menangis dan hampir menyerah ternyata aku menemukan segalanya tentang berbagai pertanyaan akan hidupku. Allah itu adil ya. Jalanan yang dipenuhi gemerlap lampu ditiap sorenya, adzan magrib, sisa tawa, aku bahagia dan bersyukur. Terimakasih untuk segalanya, membuat bocah bodoh ini mengenal dunia.