It's okay that love
Seperti menemukan dunia baru, perasaan seperti ini yang aku rasakan sehabis menyelesaikan menonton drama atau film.
Kecerewetan dalam dunia maya, kata-kata penuh bahagia padahal wajah memasang ekspresi datar tanpa ada makna.
Empati sebagai manusia, apakah aku memilikinya?
Aku selalu memikirkan orang lain tapi mengacuhkan keluargaku. Menganggap sakit adalah suatu hal yang biasa.
Rasa kasihan yang sudah mati dihatiku.
Hari ini aku belajar sesuatu lagi bahwa sebahagia apapun manusia menunjukan topengnya pada dunia, kita hanya manusia dengan lukanya masing-masing. Pasien dengan penyakit ragam.
Hanya ada dua pilihan; menerima hidup atau mati.
Wajar bila marah karena manusia punya emosi, tapi lebih wajar lagi jika bisa memaafkan dengan mudah karena kita punya hati.
Daripada memikirkan orang lain, menyemangati mereka dengan palsu, yang perlu kau lakukan adalah membenahi dirimu sendiri. Sedekat apapun hubungan keluarga sekalipun tetap saja yang bisa menyembuhkan adalah diri sendiri. Keinginan untuk sembuh, untuk melepas dendam dan memilih memaafkan.
Bukankah lebih keren dengan menjalani hidup yang lebih baik daripada memikirkan omongan orang? Bukankah lebih membahagiakan bekerja keras sehingga bisa membeli apa yang di inginkan daripada iri melihat orang lain?
Semua orang melawan kesakitannya sendiri-sendiri. Aku selalu ingat kata-kata itu. Mas khelvin yang bilang tiga tahun lalu saat aku jatuh terpuruk. Kini aku sudah bisa tersenyum, membenarkan apa katanya.
Dunia memang tidak adil, tapi siapa yang bilang bahwa dunia ini adil? Tidak ada. Manusia selalu menginginkan semua keinginannya terwujud dan bila sedikit saja tidak sampai kecewa memenuhi hatinya, menyalahkan Tuhan dan dunia. Bukankah manusia seperti itu?
Tapi itulah manusia, itulah aku.
Mau memaafkan dan melanjutkan hidup itu adalah pilihan terbaik dari segala pilihan.
Semua orang mengalami hari yang berat, tapi bukankah itu semua akan menjadi masa lalu? Kenangan pahit maupun manis hanya akan berakhir menjadi memori.
Mari menjalani hidup yang lebih baik lagi, Dewi.
Comments
Post a Comment