Keiza
"Cinta itu apa?" Tanya seseorang yang selalu dilanda sepi. Ia diam tapi banyak sekali pikiran dan perasaan aneh dihatinya. "Ini sesak, aku tak tahu kenapa". Perlahan tanpa disadari air matanya menetes.
Dua tahun belakangan hidupnya berubah, ia yang dulu polos dan selalu penuh cinta dari seseorang yang mengasihinya selalu merasakan kebahagiaan. Selalu diperhatikan, disayang dan di nomor satukan. Tapi entah karna hal apa hatinya berubah keras. Ia berubah. Meninggalkan seseorang yang menyayanginya dengan tulus. Ia mencampakannya begitu saja dengan angkuh dan penuh kesombongan. Waktu terus berputar keyakinan ia pada karma tenyata menimpanya. Lelaki itu telah bahagia dengan yang lain. Dan ia selalu sendirian, hidup dalam kesepian yang mencekam. Tidak ada lagi perhatian, kasih sayang dan orang yang memperdulikannya. Ia terlalu egois. Setelah melewati malam-malam yang panjang tanpa tidur yang nyenyak akhirnya ia sadar "bahkan aku lupa bagaimana rasanya jatuh cinta".
Ia sekarang mengerti bahwa cinta bukan soal fisik dan materi, bukan soal omongan orang lain tapi apa yang dirasakan hatinya. "Aku ingin memulai semuanya dari awal, dengan orang yang baru, aku ingin merasakan jatuh cinta tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku kalah oleh egoisku, oleh gengsiku" isaknya.
"Ajari aku cara untuk berbahagia.
Ajari aku cara untuk menerima.
Ajari aku cara untuk memulai.
Dan ajari aku cara untuk mempertahankan." Doa yang selalu ia pinta sebelum terlelap dalam tidur, berharap esok pagi ia akan merasakan jatuh cinta.
"Selamat malam, Keiza. Cara agar bahagia adalah dengan menerima keadaan, memulai dengan siapapun yang datang padamu, dan pertahankan yang benar-benar menerimamu apa adanya" bisik sang malam.
Comments
Post a Comment