Suatu saat nanti saat ku pergi dan tak akan kembali.
Suatu hari nanti kau akan mengerti saat ku tak di sini.
Saat tubuhku mulai terbaring mati dan engkau menangis.
Di era yang semakin maju ini aku makin menyadari perputaran waktu sangatlah cepat. Semua hal berubah. Manusia dan waktu; perubahan yang tak bisa dihentikan. Usia ku 24 tahun ini. Banyak hal yang ku lalui. Teman ataupun keluarga aku rasa aku tidak punya. Semua ada masanya, aku menyebutnya frekuensi. Saat ekonomi ku berada, keberadaanku seperti magnet. Entah dimana aku berada aku selalu dikelilingi semuanya. Satu yang aku pahami, keluargaku sudah lama pergi. Aku bukan lagi magnet yang menarik semua orang untuk mendekat. Hanya batu kerikil yang kadang menjadi sandungan orang lain berjalan. Entah harus sedih atau marah. Saat orang lain memutuskan hubungan denganku aku tidak lagi meronta menangis kesepian. Aku seperti sudah terbiasa ditinggalkan keluargaku. Perasaan ini, bahkan hambar saat orang lain mencaciku. Aku tidak marah atau pun menangis lagi, apa karena aku sudah terbiasa? Aku sudah tidak mau menyalahkan siapapun. Saat orang lain marah padaku, bukan tanggung jawabku untuk...
Halo, apa kabar? Kabarku lumayan baik hari ini. Aku mengambil libur sehari untuk menenangkan pikiranku yang kalut beberapa bulan ini. Aku memilih menepi sebentar, dari hiruk pikuk rutinitas yang membelenggu ku. Beberapa bulan ini aku kesulitan. Kejadian buruk banyak menimpaku ditengah himpitan ekonomi yang tidak stabil akhir akhir ini. Aku sering menangis, seperti anak kecil terisak isak dipelukan ibuku. Usapan tangan lembutnya saat menenangkanku bahkan tak mampu membuatku lebih baik kemarin. Sampai dititik aku dipeluk mereka yang seharusnya tak ada disekitarku. Menawariku jalan pintas. Aku selalu bersyukur tumbuh dalam keluarga ini. Memilih pergi cepat memang bukan solusi terbaik. Aku sampai dititik kelamku. Keputusasaanku yang semakin menghimpitku. Sesak dan penuh. Dosa besar yang telah aku lakukan hingga aku mendapatkan semua ini. Ya, aku mengakuinya. Sedari malam, jangkrik listrik ku berbunyi terus minta diberi makan. Semakin membuat kurus dompetku. Sebagai r...
Seperti menemukan dunia baru, perasaan seperti ini yang aku rasakan sehabis menyelesaikan menonton drama atau film. Kecerewetan dalam dunia maya, kata-kata penuh bahagia padahal wajah memasang ekspresi datar tanpa ada makna. Empati sebagai manusia, apakah aku memilikinya? Aku selalu memikirkan orang lain tapi mengacuhkan keluargaku. Menganggap sakit adalah suatu hal yang biasa. Rasa kasihan yang sudah mati dihatiku. Hari ini aku belajar sesuatu lagi bahwa sebahagia apapun manusia menunjukan topengnya pada dunia, kita hanya manusia dengan lukanya masing-masing. Pasien dengan penyakit ragam. Hanya ada dua pilihan; menerima hidup atau mati. Wajar bila marah karena manusia punya emosi, tapi lebih wajar lagi jika bisa memaafkan dengan mudah karena kita punya hati. Daripada memikirkan orang lain, menyemangati mereka dengan palsu, yang perlu kau lakukan adalah membenahi dirimu sendiri. Sedekat apapun hubungan keluarga sekalipun tetap saja yang bisa menyembuhkan adalah diri sendiri. Ke...
Comments
Post a Comment