Tuhan jika aku hidup hanya membuat banyak dosa mengapa tidak mati saja? Dosa dengan membenci mereka. Bukankah jika mati semua selesai? Karena dari awal yang mereka inginkan adalah kematian kami.
Jika kami tiada bukankah mereka akan bahagia Tuhan? Mereka bisa berlibur, makan enak karena uangnya tidak untuk ke dukun lagi demi membunuh kami.
Karena untuk apa kami hidup jika bermilyaran orang di dunia ini tak ada satu orang pun menyayangi kami.
Ini titik terakhir.
Saya lelah.
Apa yang saya rasa akan kalian rasakan beratus-ratus kali lipat.
Bingung
Di era yang semakin maju ini aku makin menyadari perputaran waktu sangatlah cepat. Semua hal berubah. Manusia dan waktu; perubahan yang tak bisa dihentikan. Usia ku 24 tahun ini. Banyak hal yang ku lalui. Teman ataupun keluarga aku rasa aku tidak punya. Semua ada masanya, aku menyebutnya frekuensi. Saat ekonomi ku berada, keberadaanku seperti magnet. Entah dimana aku berada aku selalu dikelilingi semuanya. Satu yang aku pahami, keluargaku sudah lama pergi. Aku bukan lagi magnet yang menarik semua orang untuk mendekat. Hanya batu kerikil yang kadang menjadi sandungan orang lain berjalan. Entah harus sedih atau marah. Saat orang lain memutuskan hubungan denganku aku tidak lagi meronta menangis kesepian. Aku seperti sudah terbiasa ditinggalkan keluargaku. Perasaan ini, bahkan hambar saat orang lain mencaciku. Aku tidak marah atau pun menangis lagi, apa karena aku sudah terbiasa? Aku sudah tidak mau menyalahkan siapapun. Saat orang lain marah padaku, bukan tanggung jawabku untuk...
Comments
Post a Comment