Chat: Jatuh
Mengapa menangis?
Aku sudah tak kuat.
Bertahanlah.
Sampai kapan?
Sebentar lagi.
Rasanya sangat menyakitkan. Berjalan di tempat.
...
Rasanya seperti terus berlari hingga kau kelelahan, hingga kaki mu bengkak dan berdarah. Namun yang sebenarnya terjadi kau berjalan di tempat tidak kemana-mana.
Sabarlah.
Kau tahu aku benci menangis, terutama di hadapan orang lain tapi sangat susah untuk menghentikan air mata sialan ini. Semakin aku menahannya rasanya semakin sakit. Seperti menggenggam sebilah belati semakin aku menahan semakin dalam tusukannya.
Sabarlah.
Tak ada alasan aku bertahan. Seluruh dunia seakan-akan menyalahkanku. Menyalahkan ketidakberdayaanku padahal aku sedang berusaha melawan diriku sendiri.
Sabarlah.
Apakah aku harus menyerah?
Tidak.
Apakah mati menyelesaikan semuanya?
Aku tak tahu. Tapi sepertinya tidak. Bertahanlah sebentar lagi.
Kau tahu, tidak ada satu orang pun yang benar-benar peduli padaku.
...
Membuatku semakin rapuh. Membuatku semakin ingin menyerah.
Pulanglah, ini sudah senja. Ku tahu kau takut gelap.
Tak ada yang lebih ku takutkan selain kenyataan. Hidupku sudah di selimuti kegelapan. Aku sudah biasa meraba-raba, aku sudah biasa terjatuh, aku sudah biasa terluka.
Comments
Post a Comment