Jumat Kliwon: Santet Dan Rintihan Kuntilanak

Aaaaaaaaaaaahhhh... aaaaaaahm... aaaaas..tagfirullah.... aaaaaasss...tagfirullah... ya allah... aaaaaaaaaa.....

Tangan mama memegang erat lehernya seakan memegang sesuatu yang aku tak tahu. Air matanya mengucur. Ia begitu kesakitan.

"Ma.. mama... istigfar ma... telfon.. telfon uwa.." kataku.
"Wa.. uwa.. mama wa..."
"Iya kamu taroh di ubun-ubun ya..."
Lalu mama di rukyah jarah jauh lewat telfon.

Aku ke dapur membuat teh manis. Saat itu masih jam 9 malam. Tapi suasana nya begitu menakutkan. Aku suka takut jika ke dapur belakang walau cahaya nya terang benderang tapi aku tahu aku tak sendirian.

"Hihihihihihihihi"
Sayup-sayup aku dengar ada tangisan yang begitu menyayat hati. "Hihihihihihihihihihi"
Suaranya samar-samar ku dengar. Oh tidak. Aku langsung ingat. Katanya jika mendengar suara kuntilanak terdengar jelas berarti ia jauh tapi jika terdengar samar-samar berarti ia di dekat kita. Bulu kudukku sudah meremang tanpa perlu aku perintah. Tanganku bergetar memegang gelas. Aku ingin sekali berlari kalau saja aku tak ingat aku sedang membawa gelas yang berisi teh manis panas.

"Dengar tidak"
"Apa?" Tanya teteh.
"Ada yang nangis. Suaranya begitu menyedihkan."
"Aku tak dengar apa-apa".
"Itu.. bukan kiriman. Itu.." ucap mama sebelum selesai bicara aku sudah tahu.
"Apa?" Tanya teteh.
"Biasa. Tetangga kita kan pesugihan kuntilanak." Ucap ku.

Mama lalu menjelaskan perihal sakitnya tadi. Lehernya seperti tercekik. Uwa bilang leher mama ada kawat yang melilitnya. Kejam sekali.

Memang tadi sore ada anak tetangga yang membeli sesuatu ke warung. Aku sudah curiga. Tidak biasanya ia membeli terlebih sekarang malam jumat kliwon. Saat menerima uangnya pun terasa panas. Dan saat magrib tadi terdengar suara burung "goooot...gooooot.." kami menyebutnya burung pertanda kiriman. Terbukti dengan kejadian malam ini.

Pada saat itu kebetulan ada teman bapa yang sedang main ke rumah. Ia bilang ia melihat kepulan asap putih di pojok gudang belakang yang menyatu dengan dapur. Saat di tanyakan kepada mama katanya itu sosok pocong. Saat itu juga seperti hujan deras tapi saat di dekati bukan tetesan air hujan yang jatuh tapi pasir. Oh sejak kapan hujan yang turun pasir? Sungguh tak masuk akal.

Aku tahu ini kerjaan siapa. Tapi biarlah waktu yang membongkar topeng-topeng mereka.

Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love