Chat: Lily Dan Rumah Baru

Ada apa Lily? Mengapa begitu murung?

Aku bahagia, Bagas.

Ah, baru ku tahu kebahagiaan mampu membuat wajahmu sangat jelek seperti itu, hahaha..

Hmm..

Ada apa, Lily?

Sudah ku bilang aku sedang bahagia, Bagas.

Ini yang kau sebut bahagia? Meninggalkan orang yang kau sayang?

Ini untuk kebaikan semuanya.

Kebaikan apa yang kau sebut, Lily. Ini bukan kebaikan pun kebahagiaanmu. Mengapa begitu memaksakan.

Aku meminta kau ke sini bukan untuk membuat benang yang ada di kepala ku semakin rumit, gas. Aku hanya minta kau temani.

Yah, kau benar. Maaf aku terlalu cerewet.

....

Lily?

Ya.

Apa kau benar-benar bahagia sekarang?

Aku tak tahu. Tapi ku yakin aku bahagia.

Tak perlu memaksakan. Maaf untuk kecerewetan ku, aku hanya tak bisa melihatmu selalu menahan luka. Kau selalu bilang kau bahagia tapi matamu seolah membantah itu semua.

Gas..

Jangan selalu membohongi dirimu sendiri Lily.

A..aku

Aku tahu, yang kau butuhkan hanya pulang.

Tapi aku tak bisa.

Kenapa Lily? Itu tempat kelahiranmu. Bukankah kau merindukannya?

Kau tak mengerti Bagas.

Apa yang tak aku mengerti Lily. Aku mengerti bahkan jika kau hanya diam.

Pulang tak selalu menyenangkan, karena kembali tak selalu membahagiakan. Mungkin saja semua sudah berubah.

Itu hanya alasanmu. Alasan dari ketakutan mu.

...

Pulanglah, bila itu bisa membuatmu kembali tertawa.

Untuk apa aku kembali?

Tentu untuk memunculkan lekuk senyummu.

Aku tak bisa.

Kenapa lagi?

Kau tak tahu.

Maka beritahu aku.

"Kau tak tahu Bagas, kesedihan ku bukan karena aku ingin pulang. Aku hanya perlu berusaha lebih keras untuk menahan perasaanku. Kau tak tahu, aku takut pulang. Karena aku tahu, kepergiaanku membuat orang-orang bahagia. Bukankah aku tak boleh egois? Maka biarkan mereka bahagia meski di sini aku menahan luka"

Mengapa kau diam, Lily? Apa kau tak percaya padaku? Berbagilah dengan orang lain. Jangan menanggung beban sendirian. Bagaimanapun masa lalu mu kau pantas bahagia.

...

Karena kau tak bisa pulang, larilah padaku.

Untuk kau marahi seperti sekarang?

Bukan.

Lalu?

Kau hanya perlu berlari, hingga kau tak ingat dimana kau memulai. Larilah pada orang yang bisa mendekapmu. Karena aku tahu yang kau butuhkan adalah pelukan.

...

Larilah padaku. Jadikan aku pulangmu. Jadi, jika kau merindukan untuk pulang, kau akan berlari padaku.

Gas..
Maaf..

Untuk?

Atas kelancanganku.

Bicara apa kau, Lily?

Atas kelancanganku berlari padamu, jauh sebelum kau memintanya. Untuk dada yang kau sediakan, saat aku ingin menangis tanpa terlihat dunia. Untuk genggaman tanganmu, saat aku terjatuh. Kau sudah menjadi pulangku.

...

Bukankah aku terlalu serakah?

Tidak, Lily. Yang kau lakukan benar. Jadi, mengapa kau masih bersedih?
Apa pelukanku tak bisa membahagiakan mu?

Aku hanya takut.

Apalagi yang kau takutkan?

Rumahku selalu pergi.
Aku terbiasa terusir.

...

Aku takut kau juga akan berubah.

Tidak akan Lily. Kalau aku berubah tampar aku. Sadarkan aku. Bahwa aku adalah rumah dari kepulanganmu.

Ya.

Kau sangat cantik jika tersenyum.

Karena aku sudah menemukan rumah baruku.

Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love