Tik Tok Tik Tok Boooom!!! Topeng Pertama Terbuka

Sudah ku tahan air mata beberapa minggu ini supaya tidak menetes nyata nya aku kalah. Hati ku sungguh mati. Bahkan sakit aku tak lagi merasakannya. Rasanya hampa seperti melayang, tanah bukan lagi pijakan ku tapi langit bukan pula tujuanku. Bagaimana pun itu, aku harusnya bersyukur masih bisa hidup hingga detik ini karena aku tahu bukan satu atau dua orang yang sekarang sedang coba membunuhku. Keinginanku di saat aku terjatuh aku bisa bersama teman-teman atau keluargaku, hanya saja bagaimana aku bisa bersama jika kehadiranku merepotkan semuanya. Maaf karena aku tidak menghubungi alasan terbesarku karena aku rapuh, bahkan melihat kalian mencoba menghubungi ku membuat ku menangis meraung-raung menangisi keadaan. Lucu sekali tempat kelahiranku bahkan menjadi sesuatu yang paling menakutkan buatku. Sudah beberapa malam ini aku terjaga di tengah malam dan menangis diam-diam karena memimpikan tempat kelahiranku atau teman-temanku. Aku menjadi seseorang yang begitu cengeng. Mudah sekali menangis tanpa ada sebabnya. Tapi itu adalah cara ku berbicara pada semesta bahwa mulutku sudah tak sanggup mengatakannya.

Semua orang menyalahkan kami tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya. Sorak-sorai kabar yang ku dengar karena masalahku. Setidaknya walau aku menanggung beban yang sangat berat, masalahku membuat sebagian orang bahagia.

Aku terus bertanya-tanya "Tuhan adilkah engkau? Mengapa engkau diam? Mengapa sepertinya engkau tidak bertindak melihat kami teraniaya." Orang bilang setiap musibah dan cobaan selalu ada hikmahnya, aku tertawa mendengarnya. Omong kosong, kata ku. Hati ku semakin kelam di liputi kebencian, meneriakan ketidakadilan yang ku alami, aku semakin berubah, dan aku tak menjadi diriku sendiri. Lalu aku tersadar, mungkin masalah ini adalah jawaban dari segala doa-doa ku dari bertahun-tahun lalu. Aku meminta Tuhan menunjukan kepada dunia siapa saja orang-orang yang selama ini menyakiti kami, mendzolimi kami, setan berwujud manusia itu dan Tuhan menjawabnya sekarang. Aku mulai mengerti bahwa masalahku ini menjadi awal bobroknya benteng setan sialan itu, benteng yang selama ini ingin aku hancurkan akhirnya hancur dengan sendirinya. Manusia-manusia setan itu mulai menunjukan wajah aslinya sekarang, dulu mereka bertopeng dalam agama dan kebaikan palsu. Dan sekarang tanpa aku bersusah payah membongkar topengnya mereka dengan suka rela membukanya sendiri. Tolol.

Keimanan bukan di lihat dari siapa kita. Membangun seribu masjid pun jika melakukan apa-apa dengan bantuan setan kalian telah menghina Allah. Allah lah satu-satu nya tempat bergantung dan meminta. Kalian, yang orang-orang menyebutnya ustadz, guru ngaji, membangun tempat ibadah, kaya raya, tanah di mana-mana, lucu sekali jika orang-orang tau bahwa kalian lah biang keladinya. Ah, aku ingat saat kalian dengan bangganya membacakan ayat suci Al Quran lewat spiker dengan merdunya yang tak orang lain tahu pada saat itu juga kalian melalukan perbuatan bejad kalian kepada kami. Ku rasa aku tak punya masalah dan kepentingan dengan kalian dalam masalah kami saat ini, lalu kenapa kalian yang begitu gigih menjadi propokator? Sungguh, tingkah kalian ini mencerminkan sesuatu yang kalian tutupi selama ini, monster yang hidup di hati kalian.

Mengapa saat masalah yang terjadi pada kami dan terjadi pada orang lain kalian semua memilih diam dan acuh. Lalu kenapa dalam masalahku kalian begitu ikut campur. Orang bodoh pun tahu bahwa kalian memang dari dulu membenci kami dan dengan kejatuhan kami --yang kalianlah penyababnya-- kalian sangatlah bergembira. Bagiku itu adalah jawaban dari doa-doaku. Di lihat kan wajah-wajah asli manusia setan yang selama ini tersembunyi.

Dua topeng sudah terbuka.

Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love