Hidup, Waktu, Dan Mimpi

Bukankah hidup begitu lucu seperti cuaca cerah yang mendadak berubah jadi hujan lebat seperti sekarang. Padahal langit begitu putih bersih tapi hujan bisa turun begitu deras. Begitupun hidup. Tapi apa sebenarnya arti hidup itu?

Semua jalan yang telah aku lalaui, aku pernah berlari, berjalan lambat karena kelelahan, jatuh, lari lagi dan terus seperti itu. Dunia terus berputar pun waktu yang terus bergulir. Nyatanya, sebesar apapun perasaan sedih atau senang dunia takkan peduli. Orang-orang akan terus melanjutkan hidupnya tak peduli apapun itu.

Katanya sehabis badai akan ada pelangi. Sehabis gelap akan ada cahaya. Sehabis menangis akan ada bahagia. Nyatanya, hidup tak semudah itu. Mungkin memang akan ada pelangi setelah badai tapi ku kira tidak semua orang yang mengalami badai bisa melihat pelangi setelahnya. Hanya orang yang kuat menahan badai yang pantas melihat indahnya pelangi, untuk orang lemah bukan pelangi yang akan lihatnya mungkin bisa jadi kematian karena tak kuasa menahan amukan badai. Memang tidak ada namanya kegelapan abadi pun cahaya yang abadi tapi tidak semua yang mengalami kegelapan bisa melihat cahaya pada akhirnya. Hanya orang-orang yang kuat. Tak punya rasa takut, bila jatuh bangun lagi dan tidak diam di tempat sampai menemukan cahaya walau harus meraba-raba. Untuk orang lemah mungkin hanya bisa menangis ketakutan dan berdiam diri karena takut gelap walau di depan ada titik terang.

Waktu yang di habiskan untuk bersedih, bahagia, menangis, tertawa adalah waktu yang akan terus bergulir. Tak ada kata kembali, siap menghadapi atau menyesal.

Manusia memang punya otak yang bisa merekam segala kenangan tapi rasanya berbeda. Seperti makan ice cream otak kita merekamnya sehingga keesokan harinya, seminggu, sebulan atau setahun kemudian kita bisa mengenangnya tapi rasanya sudah berbeda. Kita ingat bagaimana kejadiannya tapi lidah kita tak bisa merasakan dinginnya ice cream itu. Kembali ke masa itu pun percuma karena takkan bisa.

Daun yang berguguran. Bunga yang bermekaran. Semua punya fasenya masing-masing. Seperti duka dan bahagia. Aku yakin tak ada duka yang abadi mungkin saja memang jatah duka ku banyak jadi saat ini aku masih merasakan kesedihan. Tapi di depan, di masa depan aku yakin ada kebahagiaan yang sedang menantiku. Semoga waktuku masih panjang sehingga bisa merasakan kebahagiaan itu.

Sekarang, aku sedang merangkai mimpi-mimpi ku lagi. Menerbangkannya melalui untaian doaku dan semoga semua mimpiku segera sampai pada Tuhan sehingga cepat menjadi kenyataan. Ku terbangkan semua mimpi-mimpiku, harapanku, agar dunia tahu, angin tahu, semesta tahu, sehingga mereka berbaik hati mengaminkan harapanku. Menerbangkannya bersama semilir angin, memberitahu seluruh semesta bahwa aku masih memiliki harapan di tengah badai yang sedang menerpaku.

Menggantungkan mimpi-mimpi ku pada Tuhan.

Dan waktu terus berjalan.

Hujan yang telah reda sekarang.

Semoga mimpi-mimpiku telah sampai pada Tuhan.

Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love