Mati
Aku telah lama mati.
Rasanya dingin.
Hampa.
Sakit.
Lalu aku dipaksa hidup.
Kau harus bekerja keras, katanya.
Tertatih aku berjalan.
Sendirian.
Jalan yang ku lalui begitu gelap.
Rasanya seperti melayang.
Ini apa?
Mengapa banyak darah dihatiku.
Mengapa air mata ku menetes.
Aku terus berjalan.
Gelap.
Sunyi.
Ini semakin sakit.
Napasku sesak.
Apa aku di paksa hidup hanya untuk merasakan mati berulang-ulang, pikirku.
Jalan yang ku lalui semakin gelap.
"Bangun nak... bangun.."
Samar-samar ku dengar teriakan menyayat hati terdengar begitu frustasi karena apa yang ia teriakkan tak bangun jua.
Lalu sakit semakin menderaku.
Seberkas cahaya muncul.
"Bangun lah anak ku, ibu dan ayah akan memberikanmu kasih sayang, maafkan kami"
Suara yang ku dengar sebelum aku kembali terlelap.
"Kamu tuh ya, jadi kepala keluarga tapi tidak bisa apa-apa. Lihat apa yang sekarang terjadi"
"Selalu menyalahkanku. Aku diam. Tapi jika aku pergi aku tak akan kembali lagi"
"Masalah yang sedang kita hadapi itu karena kamu. Kalau kamu tegas dan tidak gampang di bodohi oleh keluargamu kita tak akan seperti ini"
"Ya sudah, kau saja yang tanya padanya bukannya aku selalu salah?"
Lagi..
Ibu, aku rindu dirimu yang lembut, baik, ceria, dan penuh kasih sayang.
Ayah, aku rindu dirimu yang membuatku tertawa.
Mengapa menjadi seperti ini? Di saat kita jatuh bukankah kita harus bergandengan tangan? Mengapa kita jadi begini. Aku sudah lelah dengan masalah ini, aku ingin kita semuanya berkumpul. Saling menyayangi.
Aku lelah, biarkan aku tidur sebentar.
Ibu...
Aku menyayangimu.
Comments
Post a Comment