Mengapa Harus Aku?
Mengapa aku Tuhan? Mengapa aku yang kau beri beban di pundakku disaat aku harusnya bahagia dengan teman-temanku, menghabiskan sisa-sisa waktu kami. Oh, sungguh sudah ku rangkai semua mimpiku. Kau tahu bagaimana aku menanti saat-saat itu. Mengapa semua serasa terlambat. Aku yang berlari terlalu kencang atau memang aku yang sudah jauh tertinggal di belakang?
Mengapa aku Tuhan? Mengapa kau beri kesedihan mendalam disaat aku harusnya bahagia dengan hidupku. Mengapa aku?
Mengapa aku yang harus terus kesakitan sedangkan di luar sana orang-orang sedang berbahagia. Mengapa aku yang harus terus menangis sedangkan di luar sana orang-orang sedang tertawa.
Mengapa harus aku?
Mereka bilang aku bahagia tak ada yang berubah padaku. Memang benar mungkin di luar aku baik-baik saja tapi jauh di dalam diriku aku sekarat.
Mereka terus mengatakan bahwa aku terlihat biasa tak terluka. Apakah dengan darah baru mereka menyadarinya? Haruskah aku menyimpannya rapat-rapat seperti yang biasa ku lakukan? Aku bisa terus tertawa palsu jika itu bisa mengembalikan semua.
Menyelesaikan yang hampir selesai pun aku tak mampu, ah bukan tapi tak bisa. Kau tahu aku mampu tapi mengapa nasib membawa ku lari. Tuhan, aku cukup pintar aku akan belajar, aku akan berhenti main handphone atau tidur, aku akan belajar mati-matian. Aku tak terlalu bodoh, aku menguasai beberapa pelajaran, aku tahu walaupun dalam beberapa hal aku lemah tapi kau tahu aku mampu bukan? Tapi mengapa aku tak bisa sekolah? Mengapa engkau menuliskan takdir ini padaku? Aku sangat ingin merasakan ujian praktek dan merasakan tegangnya itu walaupun aku amatir, aku sangat ingin merasakan les setelah jam pelajaran, walaupun aku benci ujian nasional secara online tapi kau tahu aku sangat ingin merasakannya, aku ingin merasakan belajar malam hari sebelum ujian, tapi mengapa kau buat aku tak merasakannya?
Kau tahu semangat belajarku. Semua nilai-nilaiku, semua usahaku seakan menguap dengan semua ini. Seakan tak ternilai. Tuhan aku anak yang baik, aku tak pernah macam-macam seperti teman-temanku yang lainnya, aku tak pernah merokok, aku bahkan tak pernah melihat bagaimana bentuk minuman keras, aku tak pernah sengaja membolos, bahkan aku takut jika tak mengerjakan pr. Bukankah itu bisa kau nilai juga untuk aku bisa sekolah tapi mengapa kau tidak memberikan aku kesempatan? Aku hanya ingin sampai akhir sama seperti yang lainnya.
Mengapa harus aku?
Mereka bilang tak apa-apa. Tak mengapa aku cukup baik untuk masa depan. Oh, bahkan masa depanku tak terlihat di mataku. Bagaimana hidup bisa kejam padaku.
Tuhan apakah aku telah menyakiti orang lain sehingga kau hukum aku begini? Aku minta maaf. Aku hanya ingin bisa kembali.
Tuhan hilangkan saja semua ingatanku tentang semua yang aku tinggal pergi jadi aku tak perlu menangisinya kembali dan merasa baik-baik saja.
Ya, aku tahu. Harusnya aku mengubur semua masa laluku. Menyimpannya rapat-rapat dalam sebuah kotak dan ku buang kuncinya ke lautan sehingga jika aku rindu dan ingin membukanya aku harus menyelam berperang dengan hiu dan pasti aku tak akan mampu karena beranang saja aku tak bisa. Tapi ini sangat mudah, perasaanku selalu saja menang dan membuka semua kenangan bagai kotak tanpa penutup terlihat jelas. Kau tahu aku harus berusaha mati-matian untuk menahan tangisku saat aku melihat mereka bahagia. Mengapa aku tidak kau beri juga bahagia?
Aku benci bermimpi tentang sekolah dan teman-temanku. Lihatlah dalam mimpiku saja aku ketakutan. Dan aku cukup bodoh untuk mempunyai perasaan untuk mereka disaat aku tahu sebagian tak perduli padaku. Semua yang telah terjadi menguap begitu saja bahkan ia tak memberikan sedikit semangat padaku dan memikirkan pekerjaannya tanpa tahu perasaanku. Padahal ia orang yang aku hormati. Tak tahukah bahwa aku selalu berdoa akan kebahagiaannya dengan keluarga kecilnya karena ia telah berjasa padaku selama aku sekolah. Hidup memang begitu terlalu keras untuk orang sepertiku yang selalu saja berpikir dengan perasaan. Setidaknya aku bersyukur masih ada teman-temanku yang peduli dan selalu menyemangatiku. Harusnya aku senang bukan menangis membacanya.
Tuhan apakah aku belum cukup baik untuk merasakan kebahagiaan? Lalu aku harus bagaimana? Semuanya begitu rumit. Mengapa aku yang harus menanggung beban berat ini.
Comments
Post a Comment