Pulang
Saat mereka saling berlari agar terlihat luar biasa, aku hanya ingin menjadi sederhana dengan memiliki pulang -Iit Sibarani
Aku terus berlari semampuku, berlomba-lomba menyembunyikan lara, tapi, sejauh apapun kaki ku melangkah aku selalu merindukan pulang.
Lalu, ada yang bertanya padaku "pulang kemana? Apakah kau punya tempat yang kau sebut pulang itu?" Aku terdiam, ingin ku bantah semua tanya nya, menunjukan bahwa sekacau apapun hidupku aku punya satu tempat yang ku sebut pulang. Nyatanya, sekaras apapun aku membantahnya, ia memang benar. Aku tidak punya tempat pulang.
Aku sadar, untuk orang-orang terusir sepertiku tidak ada tempat untuk pulang. Yang ada aku harus terus berlari mencari sesuatu yang bisa membuatku nyaman dan menerima ku apa adanya.
Mencari sesuatu yang baru dan meninggalkan segalanya yang telah aku milikki. Aku di paksa dunia untuk sebatang kara dan tidak memiliki kenangan. Aku di paksa melupakan segalanya dan menjadi sosok yang lain. Dunia ingin aku yang baru.
Dan walau sayup-sayup ku dengar mereka ingin aku kembali, itu tak benar. Mereka hanya ingin menyiksaku. Membunuhku di hadapan mereka secara langsung, menyaksikan bagaimana hidup menyiksaku.
Pulang,
Tak selalu membahagiakan
Karena kau tahu,
Segalanya tak lagi sama
Pulang,
Hanya tinggal kenangan
Menyisakan kegetiran
Bukti hidup begitu kejam
Pulang,
Hanya sebuah omong kosong
Menyebutnya kampung halaman
Tapi kau tahu itu sebuah kehohongan
Comments
Post a Comment