Aku; Tersangka Dan Pendosa

Jika ada kata yang pas untuk menggambarkan semuanya, mungkin terlambat adalah jawabannya.

Taruhlah aku sebagai tersangka. Semua kesalahan ditujukan padaku, segala biang masalah mulai dariku, semua kesialan gara-gara aku. Misal itu semua benar-benar karena aku, apakah kalian berhak untuk membuat keputusan orang lain layak hidup atau mati? orang lain harus mati supaya hidup kalian bahagia? Lalu, siapakah anda? Apakah anda Tuhan? Atau anda lebih hebat daripada Tuhan?

Taruhlah aku sebagai malapetaka. Semua yang mengenalku mendapatkan kesialan. Misal itu semua benar, apakah kalian berhak untuk membuat aku pergi jauh dari dunia? Lalu siapakah anda? Cenayang? Atau orang yang paling suci?

Jika aku memang sebegitu buruknya hingga orang-orang berlomba saling melenyapkan nyawaku, untuk apa kalian dulu mendekatiku? Apakah karena harta?

Kalian semua orang-orang suci. Jauh dariku yang pendosa ini, yang sering di sebut pembawa sial, mengapa oh orang-orang suci mau mengotori hidupnya dengan membunuh orang sepertiku? Apakah jika melenyapkan orang-orang sepertiku membuat anda masuk surga?

Taruhlah aku sebagai penyebab segala kekacauan. Semua orang bernyanyi tentang keburukanku. Apakah satu kebaikanku tak ada artinya? Apakah di hidupku hanya ada keburukan? Apakah semua manusia sedang amnesia?

Aku menyadari aku salah. Aku secara sadar menyadari aku salah. Apakah kalian fikir aku diam saja saat mempunyai kesalahan? Tentu saja tidak. Aku berusaha untuk menyelesaikannya, walau aku anak kecil yang tak bisa apa-apa aku kerja keras untuk menebus kesalahanku, menebus hutang-hutangku di masa lalu, aku tak mau saat aku mati nanti aku masih mempunyai tanggungan di dunia. Aku tahu bahwa saat di dunia pun aku sudah susah, aku tak mau lagi di akherat aku susah juga. Walaupun shalatku masih bolong-bolong, ngajiku belum benar, tapi aku tahu mana perbuatan salah dan benar. Aku tak dibutakan dengan membuat semua cara menjadi halal agar mengecap bahagia. Bahagiaku tak seperti itu. Jika bahagiamu dengan melihat orang lain jatuh, hancur dan berada jauh di bawah dari tempat mu berada, itu pilihanmu. Semua orang punya pilihan. Asal tahu, di setiap pilihan harus ada tanggung jawab.

Apakah kalian tak punya hutang padaku? Bahkan dari beberapa kalian ada yang sampai bertahun-tahun? Tak ingatkah? Pasti lupa, karena sibuk mencari-cari kesalahan orang lain.

Tak apa, aku ikhlaskan. Semoga dengan aku mengikhlaskan semua rezeki ku datang dengan lancar sehingga aku juga bisa membayar hak kalian.

Jangan kecewa jika aku sehat. Terimakasih ku kepada mereka yang dengan ikhlas tanpa ada niatan apa-apa mendoakan aku agar sehat selalu, untuk sebagian orang yang mendoakan yang tidak-tidak, tak apa. Hanya saja, hati-hati jika bicara. Ucapan adalah doa, semoga doa mu tak berbalik pada diri sendiri.

Kembali ke awal.

Terlambat.

Aku merasa aku terlambat. Andai saja aku dulu pemberani membeberkan segala tingkah kalian yang jauh dari sesosok manusia. Andai aku juga menjauhi orang-orang seperti kalian. Kalau aku boleh jujur, kalian lah yang memaksa ku memilih jalan ini. Jalan yang membuat seluruh dunia menyalahkan ku, kalau saja kalian tak melakukan hal-hal sesat, kalau saja kalian tak menjatuhkan usaha keluargaku, kalau saja kalian tak menyakiti kami dengan santet dan sihir kalian, tentu aku tidak begini. Tentu akan ku bayar semuanya. Lalu kalian yang mengambilnya lewat jalan ghaib semua yang ku punya, pura-pura tak tahu, pura-pura menjadi korban, padahal di sini aku juga korban. Aku harus membayar sedangkan seluruh hartaku sudah kau rampok terlebih dahulu.

Tetap saja, dunia tak perduli. Di hadapan pembenci aku lah yang salah. Tak mengapa, aku mengaku salah.

Tahukah perasaanku saat kalian berkunjung ke rumahku, sapaan yang hangat, suara tawa yang kalian ciptakan, obrolan palsu yang seakan nyata itu sebenarnya aku tahu. Hanya saja aku juga bermain peran sepertimu. Saat kau memberi kami makanan yang aku tahu di dalamnya sudah kalian berikan racun setan, aku tahu. Saat itu  perasaanku sungguh sakit. Di depanku ini sosok apa ya Allah? Ia sedang tertawa, sangat ramah, seolah-olah kita memang keluarga tapi ia juga sedang menyiapkan rencana jahat di balik senyumnya.

Aku merasa terlamat.

Harusnya aku menghentikan perbuatan mereka dan bukannya diam saja. Harusnya aku keras kepala saat orang lain menasehatiku supaya aku diam dan tak membalas. Dan lihatlah. Aku yang selama ini sabar dan menutupi tingkah laku mereka. Inikah balasan yang ku dapatkan? Di hujat seluruh dunia. Di sebut sebagai tersangka.

Apakah memang keadilan hanya sebuah mitos?

Lihatlah, gadis yang kalian sakiti ini. Yang kalian buat hancur hidupnya. Yang kalian porak-porandakan segala mimpi-mimpinya. Yang kalian paksa untuk putus asa. Aku masih hidup. Aku masih hidup walau tubuhku perlahan hancur, aku masih hidup walau nafasku mulai tersengal, aku masih hidup walau kakiku tak bisa lagi berlari.

Kalian yang membuatku terjatuh hingga membuatku paling sakit. Kalian juga yang membuatku menjadi sosok yang semakin kuat.

Terjatuh, di hantam, di lempar, di hancur leburkan. Luka yang tergores di tubuhku dan sakit yang semakin menganga di hatiku membentukku menjadi sosok pemberani. Membangunkan jati diriku yang sudah terlalu lama tertidur. Aku bangkit.

Jika memang kalian ingin aku membayar semuanya, doakan lah aku semoga selalu sehat agar bisa bekerja lebih keras lagi. Tapi cara kalian salah, mendoakan agar aku mati, gila, sakit, dan lainnya. Kalau aku mati siapa yang mau bayar?

Berhentilah melakukan hal-hal tak berguna. Kalau kalian terus main ghaib bukan kalian yang semakin kaya tapi dukunnya. Jika aku salah biar Allah yang menghukumku. Kalian orang suci tak perlu mengotori tangan kalian untuk berurusan dengan sampah sepertiku. Kalau kalian terus saja melakukan hal-hal itu bukan aku yang Allah hukum tapi kalian. Jadi berhentilah. Jika saatnya tiba aku pasti membayar semuanya.

Tak perlu menjadi hakim. Apakah memang zaman sekarang profesi hakim sedang menjadi trend supaya bisa bebas menghakimi orang lain? Menjadi hakim ada ketentuannya. Bila adil saja tak mampu, tak usah belaga seperti hakim. Allah hakim yang paling adil. Sekali lagi jika aku salah biar Allah yang menghukumku.

Hidupku tak seperti persepsimu. Jika kau berfikir begitu.
Semoga tak terjadi padamu.

Jangan suka mencari-cari kesalahan orang lain, tapi tak melihat kesalahan sendiri.

Jangan bercermin di air keruh. Uang yang kalian gunakan untuk ke dukun lebih baik di gunakan untuk membeli cermin yang besar dan jelas. Supaya nampak noda di diri sendiri. Bukan melihat di cermin orang lain.

Sibuk ngomongin hutang orang lain tapi lupa diri sendiri punya hutang pada orang lain. Jangan seperti itu.

Sibuk ngomongin orang lain aneh-aneh tapi lupa diri sendiri lebih absurd. Jangan seperti itu.

Sibuk ngurusin hidup orang lain tapi lupa hidup sendiri berantakan. Jangan seperti itu.

Taruhlah aku sebagai pendosa.
Tapi belum tentu anda masuk surga.


Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love