Menentang Dunia

Pagi tadi aku berfikir apa yang harus aku lakukan. Berbagai masalah yang terus bertambah hari demi hari dan beban yang ku tanggung pun begitu berat. Tak ada yang menyuruhku menanggung itu semua, tapi aku pribadi merasa punya tanggung jawab untuk menanggungnya. Aku sudah bekerja keras tapi ku rasa takkan cukup. Entahlah harus bagaimana lagi, yang aku percaya setiap orang sudah Allah beri jalannya masing-masing termasuk rezeki. Tiba-tiba aku berpikir yang harus aku lakukan hanya focus ke ibadah ku. Memperbaiki semua nya. Cara ku shalat, cara ku mengaji, bertata krama, berbicara, bertindak, entah kenapa aku kepikiran itu semua. Aku hanya merasa saat aku jatuh, saat seluruh dunia menjauhiku, satu-satunya yang menolongku hanya Allah. Ia yang tak pernah pergi dariku, tak pernah berubah bagaimana pun keadaanku. Walau kini aku sudah tak punya apa-apa Allah tidak pergi seperti saudaraku atau teman-temanku yang berubah saat aku dalam keadaan begini. Aku pikir aku hanya perlu mempersiapkan semuanya jika sewaktu-waktu aku tiada.

Sekarang aku berusaha berfikiran positif atas semua yang terjadi walau awalnya berat. Mungkin dulu aku lalai menjalankan ibadah lalu Allah memberikan aku cobaan supaya aku kembali pada-Nya, lebih memohon lagi pada-Nya, lebih dekat lagi. Mungkin dulu aku terlalu pemalas lalu Allah memberikan aku cobaan supaya aku menjadi anak yang rajin, mengerti susahnya mencari uang dan bekerja. Mungkin dulu aku terlalu bergantung kepada orang lain lalu Allah memberikan aku cobaan supaya aku menjadi anak yang pemberani.

Aku menyadari semua yang aku alami itu karena kelakuanku sendiri. Mungkin saja Allah kasih cobaan lewat orang lain untuk diriku. Iya, mereka menyakitiku, tapi aku menyadari mungkin ini cara Allah menegurku dan mendidikku. Ini cara Allah melatihku untuk melihat kerasnya dunia.

Jujur, terkadang tiba-tiba aku putus asa. Ingin melepas semua bebanku, menyalahkan keadaan, menyalahkan Tuhan. Ku pikir wajar, karena emosiku masih labil, aku yang masih sangat butuh bimbingan, butuh arahan, katakan saja ibaratnya dulu aku hidup enak sekarang hidup susah; rasanya berat. Lebih dari shock. Ku kira aku depresi. Dari mana aku tahu? Ya, aku mencari di google ciri-cirinya dan hmmm sama dengan keadaanku. Aku lantas tidak tinggal diam. Walaupun aku tak mengatakan pada orang lain keadaanku, rasa tertekan, amarah, sedih, aku tak mau terus-terusan seperti itu. Aku tak mau berujung menjadi orang gila. Aku juga mencari obatnya, cara mengatasinya, aku banyak merenung apa yang akan ku lakukan pada hidupku. Aku cuma ingin sekacau apapun hidupku, sehitam apapun masa laluku, tapi aku ingin membuat orang tuaku bahagia lahir dan batin.

Sedikit demi sedikit aku menata kembali hidupku. Aku hanya berfikir aku harus bangkit, jika semua orang membuat sakit kedua orang tuaku maka biarkan aku menjadi orang yang membahagiakan beliau. Hanya itu. Jika dunia saja sudah menyakitinya, maka ijinkan aku walau menjadi satu-satunya orang aku ingin melindunginya. Walau dunia mengatakan ini dan itu aku tak perduli, di atas segalanya pun kebahagiaanku, kebahagiaan orang tuaku tetap nomer satu.

Aku harus tetap hidup dan harus tetap waras. Biarkan dunia saja yang gila yang penting aku tidak.

Aku mempunyai tanggung jawab membahagiakan orang tuaku.

Terserah mereka mau mengatakan apa tentang orang tuaku, sekotor apa omongan mereka surgaku masih di telapak kaki ibuku, dan beliau selalu suci di mataku.

Biarkan mereka meremehkanku, biarkan mereka menghinaku, tapi tidak dengan orang tua ku. Mereka hanya tidak tahu seperti apa orang tuaku, mereka begitu karena tidak tahu. Ku anggap saja mereka buta dan tuli, makanya hanya bisa bicara yang tidak-tidak tanpa tau kejadian yang sebenarnya.

Maka jangan marah bila aku tak menganggap kalian lagi, yang hanya ada saat aku jatuh cuma Allah sama orang tua ku dan orang-orang tertentu. Lalu, aku harus mendengarkan omongan kalian? Maaf, tak akan. Aku akan keras kepala untuk mempertahankan apa yang ku punya dan keluarga ku harta ku satu-satunya.

Kurang tidur? Tak apa.
Badan sakit semua kayak di keroyok se-rt? Tak apa.
Kaki yang rasanya sudah tak karuan? Tak apa.
Pusing yang minta ampun? Tak apa.
Lebam-lebam? Tak apa.

Apalah artinya itu semua di bandingkan saat ibu ku melahirkan ku, mengurusku hingga aku menjadi sekarang. Tak ada artinya seujung kuku pun.

Mungkin aku akan jatuh lagi.
Mungkin aku akan menangis lagi.
Mungkin aku akan putus asa lagi.

Tapi selama aku mempunyai harapan untuk membuat orang tuaku bahagia.

Selelah apapun aku.
Sesekarat apapun aku.

Aku akan bangkit.

Demi orang tua ku.

Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love