** Semburat Jingga Itu Cinta

Warna jingga sudah terlihat sejak beberapa jam lalu, tapi sepasang anak manusia itu enggan untuk beranjak dari tempat duduknya

"Aku suka tempat ini, dit"

"Alah, bilang saja kamu suka liat sunset bareng aku, iyakan? Hehe"

"Ngayal."

"Ra, kamu tahu kenapa aku ajak kamu kesini?"

"Buat liat matahari terbenam, kan?"

"Tentu, tapi ada yang lain?"

"Apa?"

"Kamu lihat, di sana, aku ingin jadi burung-burung itu.."

"Kenapa kamu ingin jadi burung? Kenapa bukan kelinci saja, pasti kamu lucu haha.."

"Burung itu bebas"

"Tapi bisa di tembak, di tangkap, di bikin sate. Kamu mau?"

Aku tergelak melihat ekspresinya menahan kesal.

"Tapi jadi burung enak loh ra, bisa terbang tinggi. Melihat manusia-manusia yang sok besar dan berkuasa menjadi sangat kecil di atas sana"

"Ah, kalo gitu nanti aku nggak keliatan dong, dit?"

"Nggak. Kamu terlalu kecil untuk di lihat, tapi kamu selalu ada di sini, di hatiku.."

Adit. Kenapa ia begitu tenang mengatakan perasaannya, padahal jantungku sudah berdegup seratus kali lipat dari yang biasanya. Ugh, kenapa banyak kupu-kupu bertebangan di perutku.

"Hehe... gitu, ya, dit?"

"Iyalah, kamu aja yang gak sayang aku. Sebesar apapun aku, aku gak bakal terlihat di mata kamu"

"Itu kan menurutmu."

"Memang kamu menyayangiku, ra?"

"Kalau pun aku bilang nggak, kamu pasti memaksaku untuk bilang iya!"

"Hahaha... kamu benar. Lalu, jika kamu bisa berubah kamu mau jadi apa?"

"Angin."

Ia mengerutkan keningnya mendengarkan jawabanku.

"Kenapa mesti angin? Jadi bunga saja, biar nanti aku jadi kumbangnya hehe"

"Kuno sekali rayuanmu, dit haha.."

"Memang kenapa jadi angin? Apa istimewa nya?"

"Kalau aku jadi angin aku bisa pergi kemana saja. Iya, burung pun bisa terbang ke mana saja, tapi angin tak bisa di musnahkan. Selemah apapun angin ia akan tetap berhembus. Mungkin nggak keliatan, tapi itu lah istimewa nya. Aku bisa menangis tanpa terlihat dunia. Aku bisa mengekspresikan semuanya yang aku pendam selama ini. Aku bisa menjadi lembut, membuat orang lain terbuai dan tertidur. Tapi jika ada yang menyakitiku aku bisa berubah menjadi ganas, bangunan kokoh saja bisa aku hancurkan. Begitu, dit."

"Hah?"

"Kamu denger aku ngomong nggak sih?"

"Iya.. dengar. Apakah menjadi angin begitu istimewa?

"Tentu saja.."

"Lebih istimewa daripada menjadi pacarku?"

"Dit..."

"Apa?"

"Kamu selalu istimewa walau dengan tempat yang berbeda di hidupku"

"Tapi lebih istimewa angin.."

"Haha.. seperti anak kecil saja.."

"Biar saja"

"Kamu lebih istimewa karena tanpa aku menjadi angin pun kamu selalu tahu aku bagaimana walaupun aku pendam itu semua, Mr.Bird"

"Ra?"

"Ya?.."

"Besok kita ke sini lagi ya?"

"Buat apa?"

"Buat buktiin pada dunia, walaupun aku nggak jadi burung, aku sudah bebas. Aku bisa menjelajah dunia. Dunia yang ada di pikiranmu. Itu lebih istimewa.."

"Haha.. sekarang aja buktiinnya"

"Burungnya sudah pada pergi"

"Pinter aja ngelesnya kamu ini"

"Sebenarnya ada satu alasan lagi aku mengajak kamu ke sini.."

"Hahaha.. apalagi, dit?"

Adit meregoh sesuatu yang ada di kantung jaketnya. Sebuah kotak beludru warna jingga seperti sore itu.

"Will you marry me?"

Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love