Temanku
Banyak quotes tentang pertemanan. Dari yang sahabat sejati, teman yang ada hanya saat butuh saja sampai teman yang dulu deket banget sekarang kayak nggak kenal satu sama lain.
Semua quotes itu benar. Tapi, itulah pelangi nya pertemanan. Suka dan duka. Bukan hanya dalam hubungan pacaran atau lainnya, pertemanan juga ibaratnya menyatukan beberapa karakter, kebiasaan, sifat, bukan hanya satu kepala yang punya tujuan sama. Tapi menyatukan lebih dari satu jiwa.
Ada yang teman tapi nganggepnya "aah.. iya dia temen gue" itu sebatas teman biasa. Tapi ada juga yang dekat sampai semua cerita, rahasia, kita bagi ke teman kita.
Aku selalu berfikir bahwa aku berteman dengan mereka, bahkan aku mengganggap mereka sahabat karena dengan mereka aku jadi diriku sendiri, menceritakan semua kisahku, bahkan kami dulu sering bercerita tentang mimpi-mimpi kita di masa depan.
Lalu, semuanya seakan menguap. Bagai embun di pagi hari, hilang tak berbekas di bakar matahari. Aku bertanya-tanya "mengapa?" Apakah karena aku yang sudah tak lagi sama? Mereka yang seakan menjauh atau aku yang pergi terlalu jauh?
Aku marah, aku sedih, aku menangis, mengapa saat aku jatuh tak berdaya tak ada yang menemaniku. Kenapa yang aku kira mereka yang dekat denganku malah menjauh dan berbeda. Sebagian ada yang menanyakan kabarku, aku sangat senang, walaupun aku tak membalasnya. Aku senang karena mereka perduli. Tapi sekali lagi aku merasa kami berbeda, mereka semakin jauh, dan aku menyadari posisiku.
Aku menjauh sekali lagi. Aku tak akan menyebutnya sebuah kesalahan karena aku yang pertama kali menghubunginya karena dia orang yang paling aku percaya. Aku tahu mungkin dia sibuk dengan kehidupannya, aku egois karena aku ingin ia selalu ada untukku. Aku egois karena ingin ia selalu ada saat aku mencurahkan isi hatiku, ketakutanku, kemarahanku, kesedihanku, karena aku percaya padanya. Tapi aku sadar kami yang sekarang berjauhan, ia sibuk dengan sekolahnya dan aku yang tak lagi sama, pertemanan kita tak akan lagi sama seperti dulu.
Entah karena aku yang sedang sensitif, aku sedih dan kecewa karena ia tak mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Padahal sehari sebelumnya aku berharap ia teman yang pertama mengucapkan selamat untukku. Tapi tak apa, aku memaklumi pasti ia juga selalu berdoa untuk kebaikanku.
Aku menangis berhari-hari karena hal sepele seperti itu. Haha bahkan sekarang pun aku menangis saat menulisnya benar-benar gadis cengeng.
Teman, menurutmu bagaimana hidupku kedepannya? Aku tak tahu masa depanku seperti apa. Aku tak lagi sekolah seperti kalian. Apa yang harus aku lakukan?
Ah, aku kembali menangis setelah beberapa minggu ini aku menjadi gadis kuat. Ternyata menulis tentang teman bisa membuat air mataku menetes tanpa ku suruh. Aku benci jika harus menangis, tapi aku tak bisa menghentikan air mataku. Aku harus bagaimana?
Apakah aku pergi terlalu jauh?
Setiap hal yang aku lakukan semua berujung pada kenangan saat-saat kita masih bersama. Apakah aku masih kalian ingat?
Aku... aku takut di lupakan.
Atau di ingat hanya sebagai seseorang yang pergi dengan berbagai masalah.
Walaupun itu semua benar, tapi tetap saja, hatiku sedih. Wajarkah perasaanku?
Aku sangat ingin bisa berkumpul bersama-sama lagi seperti sedia kala, tapi bukankah itu tak mungkin lagi?
Teman, aku merasa seperti sedang bermimpi buruk. Hidupku tiba-tiba hancur dan aku tak tahu apa-apa. Rasanya seperti mimpi-mimpi yang sudah ku bangun hancur berantakan, semua rencana yang sudah aku susun hancur tak tersisa. Rasanya seperti di jatuhkan dari ketinggian, tanpa parasut, tanpa pengaman, jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. Dan di atas sana orang-orang hanya melihatku tanpa ada satupun yang memberi aku tali supaya aku naik ke permukaan. Menangis sendiriaan, ketakutan, merasakan sakit yang luar biasa, tapi orang-orang hanya berteriak di atas sana tanpa membantuku.
Apakah suatu saat nanti kita akan bertemu? Tapi aku takut, bila nanti saat kita bertemu kita sudah bukanlah kita yang dulu. Waktu bisa merubah seseorang, dan aku takut waktu mengubah teman-temanku.
Aku sering berfikir, saat aku menganggap mereka sahabat apakah mereka pun menganggap aku begitu? Atau hanya sebatas teman biasa. Memikirkan itu membuat hatiku nyeri.
Waktu-waktu yang telah kita lewati. Kejadian yang tak akan bisa terulang, setidaknya aku masih bisa bertemu kalian di pikiran dan hatiku. Walaupun aku tak tahu apakah aku masih hidup di pikiran dan hati kalian.
Aku menulis ini hanya untuk melepas bebanku, rasa kecewaku yang tak semestinya. Aku hanya ingin membuang jauh unek-unek ku kepada kalian supaya yang tertanam di hatiku kalian masih lah temanku yang dulu, yang selalu berbagi canda dan tawa, yang selalu mau menerima keluh kesahku, tingkah dan sifat ku, walaupun kita tak jarang berselisih paham dan marahan tapi setidaknya dulu kita masih bisa bertemu dan baikan seperti sedia kala. Dan sekarang kita yang berjauhan aku ingin berbaikan dengan kalian melalui tulisan.
Teman, aku bingung sekali memikirkan hidupku, masa depanku. Apa yang harus aku lakukan? Dulu, saat aku bingung seperti ini aku bisa langsung bertanya padamu dan bercerita namun sekarang sudah tak lagi bisa. Semuanya aku pendam sendiri, aku rasakan sendiri. Aku harus bagaimana? Aku harus bertanya pada siapa? Aku selalu bertanya pada diriku sendiri dan jawabannya selalu membuatku semakin jatuh, aku bertanya pada Tuhan tapi aku belum terlalu mengerti hikmah semuanya.
Teman, sekarang aku telah banyak berubah. Hidupku sekarang keras, terombang-ambing, terjatuh, tergores, tak berdarah tapi mematikan. Aku tak mengerti hidup aku yang aku jalani sekarang, yang aku tahu aku hanya perlu bekerja keras mencari jalan keluar sebelum kematian datang menjemputku.
Comments
Post a Comment