Aku kira aku telah bangkit. Aku pun mengira aku sudah baik-baik saja dalam menjalani hidup. Namun nyatanya sekarang meragu menjadi temanku.
Ada banyak tantangan agar aku bisa bertahan, semula ku kira ini akan baik-baik saja. Nyatanya meragu hinggap di dadaku.
Mungkin kesabaran yang ku perlukan.
Aku kira aku telah belajar mandiri, pergi kemana-mana sendiri dan melihat-lihat dunia luar. Bersosialisasi dan menghirup udara luar setiap hari. Lagi-lagi aku di patahkan oleh ragu ku.
Rasanya aku ingin menyerah saja. Menjadi pecundang seperti biasanya. Menjadi pihak yang kalah.
Menjalani hidup seperti dulu berdiam diri dalam gua ku, menikmati terik matahari hanya sebatas di pinggir jendela kamar, sendirian dan tak ada orang-orang asing.
Aku sudah muak dengan keadaan. Bertemu orang-orang baru, mensabari kebiasaan dan tingkah laku mereka. Aku sudah muak untuk memulai semuanya dari nol.
Lingkungan dan kawan.
Harus sabar, sabar, sabar. Dibentak, dihina, di pandang rendah, di jadikan kambing hitam. Di anggap bodoh.
Aku ragu.. apakah aku masih bisa bertahan, sedangkan aku tahu banyak orang ingin menjatuhkan dan berada di posisiku yang sekarang.
Aku benci dan marah pada diriku sendiri. Diriku yang tak bisa menguakan pikirannya, aku yang hanya bisa diam saat di bentak, di hina, di kambing hitamkan dan yang aku lakukan hanya tersenyum padahal saat-saat tertentu aku menangisi semua perlakuannya padaku, aku yang hanya bisa menahan kesal, aku yang tak bisa benar-benar marah. Selalu saja pada akhirnya aku yang merasa bersalah jika mereka berbalik marah padaku. Mengapa aku tak bisa menjadi orang jahat?
Mengapa aku tak bisa membentak orang lain?
Mengapa aku tak bisa menghina orang lain?
Mengapa aku tak bisa berbicara kasar?
Mengapa aku tak bisa?
Mengapa aku yang selalu merasa bersalah padahal aku tak melakukan apa-apa?
Mengapa aku yang selalu merasa bersalah saat mereka ketahuan melakukan kesalahan?
Mengapa aku yang selalu merasa bersalah?
Mengapa aku selalu berfikiran untuk menjaga perasaan orang lain, sedangkan orang lain dengan mudahnya memporak-porandakan hatiku.
Mengapa aku terus menjadi pembohong akhir-akhir ini, tersenyum dan bersikap biasa saja.
Rasanya aku ingin tidur saja seharian.
Sungguh hari-hari yang melelahkan.
Comments
Post a Comment