Boneka?

Ringankan bebanku dengan kabar kematianmu.

Itu, sejak aku pergi, hanya itu yang ada di benakku. Tapi perlahan semua rasa benci, rasa marah, rasa sedih itu perlahan hilang bersamaan dengan tubuhku yang semakin ringkih.

Perlahan rasa marah itu sedikit demi sedikit berkurang begitu pun rasa benci dan sedih. Hanya sesekali saja ku rasakan rasa sakit dan sesak di dada ku. Aku belajar ikhlas.

Tapi kenapa rasa putus asa itu datang kembali? Rasanya hanya aku yang berjuang sendirian. Hanya keluarga ku yang di salahkan.

Keputusan untuk pergi memang salah. Dan yang ku tahu, yang mereka inginkan adalah kami tetap tinggal, tapi tetap menjadi boneka mainan mereka. Mereka hanya ingin melihat aku mati secara menyakitkan di hadapan mereka, tak lebih, hanya itu. Pergi dan menyelamatkan diri adalah sebuah dosa besar, kesalahan besar, karena mereka sudah tak bisa lagi membuat kami sakit. Bukan begitu?

Tapi aku adalah manusia biasa. Yang bisa merasakan sakit, bisa merasakan perih, bisa mengeluarkan air mata. Aku tak bisa tetap baik-baik saja. Aku merasakan sakit atas ulah kalian. Sakit bagai di tusuk-tusuk jarum, leher di lilit kawat, tak bisa berjalan, tak bisa bicara, sakit kepala, linu, badan yang tiba-tiba biru-biru, tanah kuburan yang di tabur di sekelilingku tiap hari, di kirimi berbagai macam setan, uang yang raib secara misterius, dan tiba-tiba terlilit hutang tanpa sebab yang jelas, dan masih banyak lagi. Apakah itu tak cukup?

Beban apalagi yang harus aku tanggung? Tak bisa sekolah, tak punya apa-apa, punya hutang, terlunta-lunta, dan apa lagi? Dengan sangat baik hatinya kalian masih kirimi aku teluh lagi?

Lalu mengatakan aku penjahat, pengecut, sampah, lalu aku harus menyebut kalian apa? Yang mulia? Begitu?

Aku tak pernah dalam hidupku keluarga ku meneluh orang lain, membangkrutkan dan menghancurkan orang lain demi usaha maju, tak pakai penglaris, tak mempunyai pesugihan, tak mempunyai tuyul, dan bantuan setan lainnya. Lebih jahat mana aku atau kalian? Aku tak pernah menyantet orang lain karena aku iri dengan hidup orang lain, dengan kekayaan orang lain, dengan kebahagiaan orang lain. Lebih pengecut mana aku atau kalian? Aku tak suka mencampuri hidup orang lain dengan kerjaan setiap hari mengamati orang lain supaya ada bahan untuk di gosipkan. Lebih sampah mana aku atau kalian?

Tak usah menganggap hidup orang lain sangat kotor jika hidupmu saja tidak bersih.

Jangan menganggap hidup orang lain sangat menyedihkan jika kau masih iri terhadap hidup orang lain dan menghalalkan segala cara untuk bisa seperti orang lain tak perduli dengan harus menghancurkan hidupnya. Orang yang tak bisa menerima hidupnya sendiri sehingga menghancurkan hidup orang lain sebagai sebuah kebahagiaan adalah yang paling menyedihkan. Dan itu adalah kalian.

Sekali lagi aku ingin bertanya, jika menyakiti orang-orang sepertiku, menyakiti keluargaku bahkan sampai ingin melenyapkannya apakah itu membuat kalian masuk surga?

Apakah aku harus pulang dan memperlihatkan kesakitanku di hadapan kalian supaya kalian bisa tidur nyenyak dan tak memikirkan bagaimana caranya untuk membuatku semakin sakit?

Rasanya aku hanya sebentar memejamkan mata lalu setelah aku membukanya semua yang ku punya telah hilang. Atau begitukah cara setan? Cepat dan sedikit meninggalkan jejak? Pantas saja kalian sangat memujanya.

Cepat atau lambat semua akan berbalik pada waktunya.

Sekali lagi, cepat atau lambat semua akan berbalik pada waktunya.

Dewasa memang tak bisa di tentukan lewat umur. Menurutku dewasa itu seharusnya bisa menilai mana yang baik dan buruk.

Tiap hari jungkat-jungkit shalat, ngaji, tapi kerja sampingan jadi tukang teluh, jadi rentenir, jadi pemuja setan. Buat apa?

Ingatlah hari pembalasan. Bukankah Allah pernah bilang perbuatan sebesar biji zarrah pun ada balasannya? Atau kau anggap itu mainan? Gurauan?

Bayangkan jika kau mati dalam keadaan sedang membuat sakit orang lain? Sakaratul maut yang sangat menyakitkan? Siksa kubur yang amat perih dan saat itu kau baru menyadari kesalahanmu.

Atau sanak saudaramu mengalami hal sama denganku, keluarga mu, anak mu, bahkan kau sendiri. Setelah itu kau baru menyadari kesalahanmu.

Tapi kau sadar setelah kami tiada, sebelum kata memaafkan terucap dari mulutku. Dan yang bisa kau lakukan adalah menyesal. Dan tak ada gunanya.

Apa gunanya ilmu yang sangat tinggi itu, jika kau gunakan untuk membuat sakit orang lain?

Apa gunanya harta yang sangat banyak itu, jika kau gunakan untuk mencekik orang lain?

Lalu kau tersadar setelah ajal menjemput, setelah bencana dan cobaan datang pada hidupmu. Dan yang kau lakukan hanyalah menyesal.

Kau menangis, kau meraung-raung untuk meminta maaf. Tapi semua terlambat.

Terlambat.

Aku manusia.

Aku bukan boneka mu.

Comments

  1. Aku banyak membaca tulisanmu dan sepertinya aku juga merasakan hal yang sama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata bukan cuma aku yang ngerasain :') Sabar jawabannya buat kita bedua. semangat

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love