childhood memories
Pantai atau gunung?
Aku akan langsung berteriak gunung, kenapa? Karena gunung identik dengan ketenangan, pepohonan, udara yang bersih, dan keindahan ciptaan Tuhan yang tak akan ada habisnya untuk aku berdecak kagum.
Bukan berarti aku tidak suka pantai ya :)
Aku suka kok, melihat langit biru di atas lautan luas sungguh indah. Deru angin yang kencang, aroma lautan yang khas, deburan ombak, pasir yang hangat.
Tapi aku begitu mencintai pegunungan.
Rasanya aku ingin naik gunung lagi. Rasa lelah yang mempunyai tujuan.
Aku sering berandai-andai jika suatu hari saat aku sudah tua nanti aku ingin mempunyai rumah di pegunungan, rumah kecil yang sederhana namun hangat dengan pekarangan yang akan ku tanami bunga-bunga. Menikmati pagi dengan secangkir teh dan pisang goreng, ketenangan dan --siapa pun kamu nanti-- adalah sebuah hal yang paling ku ingin. Saat sore aku duduk di teras sambil membaca buku.
Tidak apa jauh dari kemewahan dan kemodernan dunia, selama ketenangan ku miliki aku akan baik-baik saja.
Bahkan aku suka sekali melihat apa saja yang berkaitan dengan pegunungan dan hijau-hijau. Mau itu film atau iklan di tv.
Bukan berarti aku tidak suka akan kemajuan teknologi yang semakin berkembang, hanya saja menurutku aku perlu sesuatu yang alami. Aku selalu percaya alam yang terjaga akan memberikan energi positif.
Kenangan masa kecil adalah salah satu faktor yang membuat aku suka akan pegunungan.
Saat aku kecil lingkunganku masih banyak tanah kosong, pepohonan, bunga-bunga, dan kami semua masih bisa bermain permainan layaknya anak kecil.
Aku rindu sekali masa-masa di mana di depan rumahku di tanami bungan matahari dan bunga terompet. Walau saat itu rumahku masih memakai bilik dan kami sangat kekurangan, tapi kenangan itu sangat membahagiakan.
Atau saat main masak-masakan dengan teman-teman, membuat gulali, main boneka barbie, membuat baju barbie sendiri dengan menggunting baju-baju bekas dan belajar menjahit.
Atau saat banjir, berenang di irigasi sawah yang sedang meluap dengan menaiki batang pohon pisang sebagai pelampung supaya tidak hanyut, mencari ikan yang kabur saat kolam milik tetangga meluap. Mengaji setiap sore dan bermain sepak bola di sawah sehabis panen.
Atau saat kita semua ikut kak Asep mencari belut di sawah, berjalan jauh lewat pematang sawah. Dan malamnya kita semua membakar jagung dan ikan di pekarangan rumahku.
Atau saat kita berebut mencari kumbang di pohon kelapa yang di tebang di belakang rumahku. Dan menanggap serpihan batang kelapa yang di gergaji sebagai salju.
Memancing ikan di saluran air yang terkenal angker, dan main layangan sehabis pulang sekolah sampai membuat kulit menjadi tambah hitam dan rambut kemerah-merahan.
Lalu waktu bergulir dengan cepat.
Pepohonan di tebang di gantikan dengan rumah-rumah besar, bunga-bunga tak ada lagi di ganti dengan pagar rumah yang menandakan kekayaan seseorang. Tak ada lagi main masak-masakan, main layangan, tak ada lagi lagu anak-anak, sinetron yang bagus dan semuanya.
Semuanya berubah dengan sangat cepat. Bahkan aku tak sadar sejak kapan semua bermula.
Aku sungguh rindu masa kecil ku.
Dan pegunungan adalah jawaban dari kerinduanku.
Dalam hal ini aku menyadari, seberapa pun harta yang kita punya tak akan bisa membayar kenangan untuk kembali kita rasakan.
Aku sangat rindu rumah sederhana ku. Rumah yang membuat orang menganggap kami rendah. Tapi rumah itu penuh sekali dengan cinta kasih. Aku sangat rindu saat aku, kakak, mamah, dan bapak tidur di kasur yang sama saat hujan. Berdesak-desakan tapi penuh dengan kehangatan. Tak perduli dengan atap yang bocor dan membuat kami kedinginan, malam itu kami lewati dengan tidur nyenyak yang menenangkan.
Aku juga rindu di masa aku dan kakak masih kecil dan kita berempat masih bisa menaiki motor bersama-sama. Bapak yang bekerja seharian di tempat penggilingan padi yang jauh dan melelahkan, masih sempat-sempatnya hampir setiap malam mengajak kami jalan-jalan. Tidak, saat itu kami tidak mempunyai kendaraan tapi bapak selalu menyewa motor pada tetanggaku untuk membawa kami jalan-jalan melihat pantai malam hari.
Aku rindu masa di mana beng-beng adalah jajanan mahal dan es krim adalah makanan yang mahal. Aku ingat sekali saat kami beli es krim yang harganya cuma lima ribu rupiah dan pada saat itu kami belum memiliki kulkas dan malam-malam mengetuk rumah tetangga untuk menitipkan es krim supaya tidak cair ke esokan harinya.
Dan saat semuanya berubah, kami punya kendaraan sendiri motor ada 4, ada mobil, kulkas ada 3 bahkan menjual es krim yang dulu sempat aku pikir makanan mahal. Dan rumah yang sangat jauh berbeda dari rumah sederhana ku dulu, bahagia dan ketenangan tak bisa aku miliki.
Harta benda dan keadaan berada tak bisa memberi kebahagian dan rasa syukur yang sama saat aku masih susah.
Orang-orang di sekelilingku berubah, hampir semua orang yang aku anggap sebagai saudara saking dekatnya semua berubah menjadi monster, menjadi srigala dan aku hanya domba bodoh yang tak tahu apa-apa. Di benci, di fitnah, di sakiti. Kesakitan adalah teman sebagai timbal balik semua yang aku miliki. Semua orang menjadi iri, dan berlomba-lomba siapa yang bisa menghancurkan kami.
Sungguh, aku lebih memilih hidup sederhana tapi memiliki orang yang menyayangiku dengan tulus. Aku tak apa di anggap rendah karena miskin tetapi memiliki orang-orang yang baik luar dalam adalah sebuah keistimewaan. Saat aku miskin orang lain tak akan membenciku, saat aku miskin orang lain tak akan iri padaku, dan saat aku miskin orang-orang tak akan berlomba-lomba membuat kami hancur dan tiada.
Di khianati sungguh menyakitkan. Menganggap orang yang ada di dekatmu sebagai orang baik padahal ia pembunuh berdarah dingin sungguh mengerikan.
Di kelilingi orang yang memuja kesuksesan kita, menganggap kita saudaranya saat aku sudah berada padahal menusuk dari belakang itu sangat menyakitkan.
Mungkin saat aku hidup di pegunungan bisa mengurangi luka dan trauma yang membekas di memoriku. Berteman dengan alam adalah terapi yang paling pas buatku. Aku lebih suka mendengar cuitan burung daripada mendengar orang-orang bergosip. Di kelilingi pepohonan hijau daripada lintah darat dan ular berbisa yang berubah wujuh menjadi manusia-manusia munafik.
Ah.... aku sungguh ingin naik gunung atau tinggal di pegunungan sekarang:')
Semoga saja esok, setahun, lima tahun, atau sepuluh tahun ke depan semua yang aku inginkan bisa aku wujudkan.
Dan aku akan menikmati waktu-waktuku sekarang, meresapi segalanya duka atau pun bahagia. Meresapinya agar aku tak menyesal di kemudian hari. Menjalani hari-hari dengan kesadaran dan keikhlasan.
Saat ini aku merindukan masa kecilku dan sepuluh tahun ke depan aku akan merindukan juga saat-saat ini. Aku yang tertatih-tatih bangkit, belajar dewasa, belajar arti hidup, bekerja keras. Merindukan masa-masa ini sambil melihat pegunungan:')
Ada yang mau ajak aku naik gunung? ^^
Comments
Post a Comment