d e w i
Ada sebuah fase dalam hidup dimana merasa bahwa kau tak pernah merasakan kebahagiaan, padahal jauh sebelum luka menjadi temanmu kebahagiaan adalah sahabatmu.
Saat bahagia kau masih bisa mengingat luka apa saja yang telah kau lewati ---bahkan kau bilang kau masih bisa merasakannya, tapi, saat luka menjadi sebuah hal yang lebih dominan di hidupmu (sekarang) kau lupa bagaimana rasa bahagia itu dan bertanya-tanya bagaimana aku bisa mengecap sedikit rasa bahagia untuk mengurangi luka ku.
Manusia. Sesosok makhluk yang lebih mudah mengingat luka. Membencinya setengah mati tanpa sadar ia melukai dirinya sendiri.
Ada satu kejadian dalam hidup yang kau merasa takkan mampu, takkan sanggup dan kau jadikan putus asa sebagai alasanmu. Lalu kau memilih untuk mati, berharap saat nyawa tercabut dari raga bebanmu pun terlepas dengan sendirinya. Tapi kau hanya seorang pengecut, hidup enggan mati pun takut.
Ada satu hal dalam hidup kau begitu mensyukuri segalanya, menyadari segala kesalahanmu, menghargai semua yang kau punya. Lalu rasa putus asa hinggap di dadamu yang mulai bersih, mengotorinya dengan segala prasangka dan rasa tak terima.
Ada satu kali dalam hidupmu kau menangis begitu kencangnya. Seakan-akan kau berfikir air mata takkan pernah ada habisnya. Yang kau lakukan hanya meratapi keadaanmu yang kau pikir sangat menyedihkan, menyalahkan dunia yang seakan-akan tak pernah adil pada dirimu.
Tapi, mentari akan tetap bersinar esok. Hujan akan tetap turun jua. Bahagia dan sedih adalah suatu hal yang mutlak. Seperti siang dan malam.
Nikmati sedihmu, nikmati lukamu. Resapi dengan perlahan, sampai jiwa mu menjerit ingin berhenti. Menangis lah sekencang-kencangnya sampai semua rasa sesak di dadamu bisa sedikit berkurang. Dan setelah semua itu bangkitlah.
Lupakan semua sakitmu seperti kau melupakan bahagiamu. Bukankah luka yang lebih dalam pun kau bisa melewatinya dulu, jadi kenapa sekarang menyerah?
Mati adalah cara tercepat melepas lara bagi orang yang tak kuat menahan kejamnya dunia.
Tapi percayalah, walaupun kau telah terbujur kaku dengan tubuh membiru beban mu akan terus mengikatmu sampai ke dunia mu yang baru.
***
Aku menulis ini untuk Dewi. Untuk seseorang yang ku sebut diriku. Kau harus bertahan sampai jantung mu berhenti berdetak. Seletih apapun kau, seputus asa apapun kau, ingatlah, tak ada kesedihan abadi, luka abadi, suatu hari sakit mu pasti terobati. Kau yang sekarang sedang menahan luka, memeluknya sedemikian eratnya sehingga orang lain tak melihat, bersabarlah. Kalau pun akhirnya kau mati setidaknya kau telah berusaha membuat orang lain bahagia di sisa-sisa waktu yang kau punya.
Seperti yang kau percaya "biarkan karma yang bekerja".
Tak apa kau tak seperti teman-temanmu. Masa depan setiap orang siapa yang tahu? Bersabarlah. Kau orang special Dewi, tak banyak orang yang di beri beban berat di pundaknya. Ini ladangmu mencari amal; bersabar, bersabar, bersabarlah.
Suatu hari tangismu di balas tertawa.
Suatu hari sakitmu di balas bahagia.
Dan suatu hari nanti kau akan mengenang masa-masa ini, bahkan mungkin kau akan menertawakannya di masa depan. Dan satu hal; kau akan bangga bisa melewatinya.
Kau harus membangun sejarah dengan baik. Bersabarlah.
Dewi, tak apa kau tak bisa sekolah. Kau bisa membuat sesuatu yang kreatif, kau bisa bekerja, kau bisa menulis, kau bisa membuat masa depan mu cerah tanpa sebuah ijazah. Yang penting kualitas. Kau hanya perlu belajar lebih baik.
Dewi, tak apa kau tak punya segalanya. Semua orang pasti pernah kehilangan.
Dewi, bersabarlah. Ingat seperti yang ibu mu bilang "semua hanya titipan Allah, kau harusnya bersyukur pernah merasakannya. Dan saat semua itu di ambil kau tak boleh marah."
Dewi, aku tau kau kuat. Kau bisa bertahan. Kau akan baik-baik saja. Walaupun kau kehilangan segalanya kau punya sesuatu yang berharga keluarga.
Comments
Post a Comment