Kerja

Haruskah aku tersenyum bangga atau menangis menahan lara?

"Dia bilang.. kok A gitu sih udah enak bisa sekolah tapi malah di sia-siain, sedang aku yang pengen banget sekolah nggak bisa"

"Hah.. emang dia seangkatan aku?

"Iya.. cuma dia lebih muda daripada kamu."

"Kok bisa kerja?"

"Ya gitulah, bla bla bla"

Itulah sepenggal percakapan antara si A dan si B yang sedang membicarakan ku.

Si B ini adalah rekan kerja ku, sedang si A adalah pacarnya. Aku nggak dengar secara langsung karena kalau aku sedang fokus pada sesuatu orang ngomong pake toa juga nggak bakal kedengeran.

Nggak beberapa lama si A pamit pulang. Setelah pulang si B langsung cerita sepenggal percakapan di atas, aku hanya tertawa-tawa mendengarkan ceritanya aslinya ieu hate seseredetan:')

Katanya juga si B ini di marahi oleh si A karena katanya terlalu mengurusi hidupku dan kalau ngomong jangan sembarangan takut aku tersinggung, sekali lagi aku hanya membalas dengan tertawa-tawa saja.

Btw, si A ini cowok ya.

Kenapa aku tertawa-tawa? Hanya itu yang bisa aku lakukan, menganggap hal itu biasa saja dan tak ada artinya untuk ku, padahal mataku sudah berkaca-kaca. Tak mungkin aku menanggapinya dengan menangis sesenggukan di hadapan orang lain, seperti lirik lagu yang ku suka akhir-akhir ini hancurnya hatiku tak perlu kau tahu hehe:"

Sekali lagi aku meyakinkan diriku "ayolah dew.. tak apa, jika ijazah yang kau harapkan ikutan paket bisa kan? Kau hanya terlambat bukan berarti kau orang gagal" tapi tetep aja sedih hehe..

Aku hanya berfikir, jika orang tahu keadaan ku yang "begini" aku tak mau di kasihani.

Kalau kenyataannya hidup ku memang menyedihkan tapi aku nggak membutuhkan di kasihani.

Saat aku meratapi nasibku terus-terusan, marah-marah terus kepada keadaan, saat aku merasa sangat lelah dan sakit, apakah aku akan terus seperti itu? Tentu saja tidak.

Aku melihat banyak anak kecil yang terpaksa mengamen dan hidup di jalanan, meminta-minta, atau kakek-nenek yang sudah tua renta masih harus bekerja keras.

Lalu aku yang masih muda kenapa hanya diam dan mengeluh dengan keadaan?

Nikmat Allah mana lagi yang kau dustakan?

Aku ini bekerja keras untuk membeli beras bukan untuk membeli mulut dan omongan orang lain. Ngapain beli mulut mereka yang bisanya mengucap kata-kata buruk mending buktiin aja lewat kenyataan.

Iya, aku ini bocah lulusan smp yang saat teman-teman nya sibuk ujikom dan un aku malah kerja. Ada masalah?

Aku ini kerja untuk membayar hutang-hutangku. Biar nanti aku mati aku udah ndak punya tanggungan. Jadi buat kalian-kalian yang sampai detik ini masih kirimi aku santet dan sebagainya mikir, kalo aku kalian bunuh sekarang siapa yang mau bayar hutang? Arwahku? Kalau aku jadi hantu tak cekek kalian satu per satu daripada aku bayar hutang.

Aku harus tersenyum bangga karena aku bisa mandiri dan bekerja keras di saat anak lain hanya bisa bermain-main dalam hidupnya,

Atau menangis menahan lara melihat orang lain bersorak gembira dengan dada berdebar-debar menantikan un tiba?

Aku harus opo?

Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love