hujan; kenangan kecil

Langit begitu gelap.
Aku menatap jalanan. Melihat bagaimana mereka tertawa walau cuaca sedang mendung.
Aku menyenderkan kepalaku ke meja, mengapa rasa ini datang lagi. Aku mendongak untuk menghapus air mata yang hampir saja turun tanpa tahu diri.
Kenangan.. kenangan sialan itu terus berputar di kepalaku. Aku teringat hari-hari terakhir saat aku masih di sana, aku yang sibuk menyiapkan segala hal untuk sidang, kami yang mengungsi dengan ngekost karena kalau tinggal di rumah sama saja dengan bunuh diri, dan segala hal yang terjadi. Aku teringat saudara-saudaraku, mereka semua, membayangkan wajah mereka, kelakuan mereka. Aku teringat setiap bagian rumahku, apa saja yang aku lakukan saat sedang hujan begini dan membandingkannya dengan sekarang sukses membuat aku menangis dalam diam.
Orang-orang melihatku yang terus diam melihat hujan dengan mata memerah. Tak ada tanya, hanya wajah terheran-heran yang mereka tunjukan.
Aku ingat betul hari dimana aku mengetahui semuanya. Hari dimana duniaku serasa runtuh, mimpiku hancur berantakan, dan aku merasa tak punya masa depan.
Aku tak tahu apa yang terjadi, semuanya begitu cepat. Orang tua ku pun tak bisa menjawab saat aku tanya bagaimana awalnya, mereka hanya bilang "kami pun tak tahu".
Jangan bilang kami tak berusaha, kami berusaha mati-matian tapi hasilnya nihil. Uang kami hilang tiba-tiba dengan jumlah yang tak sedikit dan tiba-tiba di hadapkan dengan hutang yang banyak tanpa tahu awalnya.
Dan saat semuanya semakin rumit kami di hadapkan dengan kenyataan menerima "sakit" setiap saat. Aku bertanya-tanya kenapa ini semua terjadi padaku, ada jutaan orang yang lebih jahat, lebih bejat hidupnya kenapa Tuhan malah memberikan ini padaku. Aku marah pada Tuhan yang diam saja melihat kami di aniaya.
Aku menangis setiap hari selama berbulan-bulan. Menangisi hidupku yang lemah sehingga bisa di permainkan orang lain. Menyimpan dendam kepada mereka.
Saat itu saat mereka berkunjung ke rumahku aku selalu menunjukan sikap tak bersahabat, aku marah, aku berteriak, aku menangis di hadapan mereka. Dan yang mereka lakukan adalah menenangkanku sambil menusukan pisaunya lebih dalam.
Rasanya aku ingin mati saja daripada di sakiti terus-terusan tanpa ada akhir. Rasanya aku ingin mengakhiri penderitaanku saja.
Suatu kali aku menangis begitu kencangnya, tak ada yang bisa menghentikanku. Yang di pikiranku adalah bagaimana aku mati tanpa terlalu sakit. Gantung diri tak ada tali, pisau? Aku takut. Dan pilihanku adalah meminum obat sebanyak-banyaknya. Aku sudah memilihnya sampai aku melihat wajah sendu ibuku. Emosiku meluap, kalau aku mati siapa yang akan membahagiakan ibuku nanti? Siapa yang akan membersihkan namanya nanti? Dan aku memilih hidup.
Ingin rasanya aku mengembalikan semua perbuatan mereka. Ingin rasanya aku mengembalikan teluh mereka, menghancurkan mereka, mengambil uangku kembali dan membuat hidup mereka berantakan. Rasanya sangat menggebu-gebu dalam jiwaku. Tapi lagi-lagi aku tersadar, jika aku melakukan itu apa bedanya aku dengan mereka?
Seringkali aku menyalahkan diriku sendiri, diriku yang tak bisa jahat, diriku yang diam saja, diriku yang tak bisa berubah menjadi monster seperti mereka. Kenapa aku selalu kalah dengan hatiku, dengan rasa kasihanku. Ingin aku tak peduli lagi pada apapun dan membalas mereka satu persatu.
Di sini, di dadaku masih ada penantian melihat mereka merasakan semua yang aku rasa. Rasa sakit yang membuat aku ingin mati saja saat kambuh.
Rasanya sakit sekali. Sangat sakit. Aku tidak tahu namanya apa di kedokteran, aku hanya merasakan linu di hatiku, membuatku sesak dan menangis.
Aku sadar, jika tak ada orang-orang baik di sekelilingku tentu aku akan berakhir di kematian penuh dendam. Nyatanya, aku harus mengucap beribu-ribu syukur karena Tuhan masih sangat baik menjagaku, mengjaga keluargaku. Memberi kesempatan kami masih hidup walau menahan sakit, dan memberi kesempatan untuk kami memperbaiki segalanya.
Seringkali sehabis shalat aku bertanya pada Tuhan, ya Allah jika uang seratus ribu saja kami tak punya bagaimana aku bisa membayar hutang orang tuaku? Aku ingin menjadi anak yang membanggakan mereka, mengangkat derajat mereka, tapi bagaimana caranya? Jika melihat keadaanku yang sekarang tentu tak mungkin, tapi aku percaya Engkau yang maha kaya. Hutang-hutangku yang banyak tak seberapa dengan alam semesta yang kau punya.
Hanya itu yang aku punya sekarang, sebuah keyakinan. Bahwa semua akan berakhir. Badai pasti berlalu.
Tak mungkin Allah diam saja, bukan begitu?
Aku menyimpan semuanya rapat-rapat. Segala perihku.
Seringkali aku pergi ke kamar mandi hanya untuk menumpahkan air mataku tanpa terlihat siapa-siapa. Menangis sambil membekap mulut supaya tak ada suara yang terdengar. Atau mandi tengah malam untuk menghilangkan beban yang semakin memberatkanku lalu bergelung didalam selimut sampai kesulitan bernafas. Hanya itu yang bisa meringankan bebanku.
Saat semua sudah terjadi, pikiranku sudah tenang maka aku akan baik-baik saja.
Aku menangis karena aku sedih. Hanya itu.
Tapi aku tahu, tak ada artinya aku terus menangis tanpa melakukan apa-apa.
Dan disinilah aku sekarang. Hujan sudah reda begitupun dengan kenangan sialanku. Aku sudah merasa lebih baik setelah menulis ini. 

Dewi.. percayalah, suatu hari air matamu di balas bahagia oleh Tuhan. Karena itu jadilah anak yang kuat.

Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love