Bisakah Berubah?

Tepat saat ini perasaanku sedih sekali.
Sayup-sayup ku dengar bapak dan mamah sedang menceritakan kehidupan keluarga kami.
Ah perasaan ini, sedih sekali Tuhan.
Hari-hari berlalu, sudah seratus hari lebih kami pergi. Ikhlas sudah tumbuh di hatiku sedikit demi sedikit.
Menangis bukan jawaban dari segala kesedihanku.
Tuhan, apakah kehidupanku akan kembali seperti dulu lagi?
Aku masih mengeluh, aku masih sering sedih, aku masih sering marah. Terlepas dari itu semua apakah engkau masih mau membuat hidupku menjadi lebih baik lagi?
Tuhan, segera sembuhkan aku agar aku bisa kembali bekerja. Supaya aku bisa mengumpulkan sedikit rupiah untuk kami bisa makan.
Bila ini jalan yang harus ku jalani aku ikhlas.
Kepada mereka,
Ini dewi, hmm.. aku tak tahu salah keluargaku dimana, apakah sebuah dosa besar bila aku bisa tertawa? Bila keluargaku bisa merasakan nikmat sehat? Bila keluargaku bisa membangun rumah untuk anaknya berteduh dari panas dan hujan? Bila keluargaku membanting tulang bekerja keras untuk memberi makan anak-anaknya?
Tak pernah terlintas di benakku untuk aku sombong, untuk membuat kalian merasa iri dengki dengan kehidupanku yang tak seberapa ini.
Aku tak tahu bahwa membangun rumah, membuka toko, membeli kendaraan dan sebagainya adalah dosa besar. Suatu hal yang bisa menumbahkan rasa iri di dadamu.
Aku pun meminta maaf atas segala dosa yang sudah aku dan keluargaku perbuat kepada kalian sehingga rasa benci tumbuh di hati kalian kepada kami. Kepada mereka yang masih aku hutangi aku meminta maaf. Iya, mungkin kata maaf tidak bisa langsung membayar hutang-hutangku. Tapi percayalah suatu hari nanti kalau uangku sudah cukup aku akan datang menemui kalian untuk membayar hak kalian.
Terkadang rasa penasaran menggelitik hatiku, bagaimana kabar kalian? Bagaimana perasaan kalian saat melihat kami seperti ini?
Aku tak bisa mencaci maki kalian secara langsung, tak bisa meneriakan sesak yang ada di dadaku. Luka yang menganga dan garam yang kalian tabur setiap hari untukku, aku tak bisa meminta kalian menanggung jawabkannya.
Aku yakin, pun kalau Allah tak memberi balasan secara langsung di dunia pasti ada balasan di akhirat nanti.
Aku pernah baca katanya kalau orang yang suka ke dukun, tukang teluh, tukang santet, dll tidak di terima langit dan bumi saat tiada nanti. Roh nya melayang kesana kemari karena masih mempunyai tanggungan. Wallahualam.
Aku sering membaca majalah Hidayah yang menceritakan kematian seseorang secara tragis karena semasa hidupnya yang diliputi oleh kegelapan.
Sekali lagi wallahualam.
Tapi tak pernah kah kalian merasa takut?
Bahkan aku pun merasa takut jika aku mati masih mempunyai hutang kepada kalian, masih menyimpan benci. Tapi bagaimana bisa kalian tak mempunyai hati nurani saat menghancurkan kehidupan seseorang? Tapi bagaimana bisa kalian sangat enteng ingin menghilangkan nyawa orang lain hanya karena kalian iri dan benci?
Semoga kalian segera menemukan kebahagian sejati sehingga tak akan ada lagi keluarga yang nasibnya sama seperti keluargaku.
Semoga aku pun bisa cepat melunasi hutang-hutang ku supaya aku tak terbebani lagi.
Semoga kita semua bisa menemukan hidayah dan titik balik kehidupan. Supaya kita semua bisa menemukan jalan yang benar menuju surga yang di ridhoi Allah swt.

Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love