Whats wrong with me
Apa yang salah dengan saya?
Itulah pertanyaannya.
Mereka bilang saya jutek, judes, bermulut tajam dan gampang sekali marah. Baiklah saya mengakuinya, saya memang pribadi yang seperti itu mungkin terlihat sangat kekanakan. Saya bukan ingin melakukan pembelaan atas sifat jelek saya, hanya saja terkadang ada satu sisi dalam jiwa yang ingin terlihat kuat dan melakukan pembentengannya sendiri dari sikap lemah dan mungkin keegoisan saya adalah cara saya mempertahankan diri saya supaya tidak menangis walau sangat sulit. Saya selalu memilih jalan yang saya pikir membuat diri saya kuat dan tidak terlihat lemah. Sayangnya itu semua menyakiti orang lain dan membuat orang lain tidak mengerti saya.
Mereka bilang saya berubah. Entah sadar atau tidak sebuah kondisi lingkungan atau psikis pasti membuat perubahan entah ke arah yang lebih baik atau sebaliknya. Mengapa hanya mengatakan saya berubah tanpa memberitahu dimana letak perubahan saya dan tidak memberi saran saya harus bagaimana. Sadarkah bahwa kalian juga berubah? Kalau saya boleh jujur saya sangat ingin bertanya mengapa kalian melakukan ini pada saya. Saya memang pergi dengan sejuta masalah yang membuat psikis saya lelah yang membuat (menurutmu) saya berubah. Saya selalu bertanya-tanya mengapa kamu tidak menghubungi saya? Mengapa kamu memilih diam dan seolah-olah tak tahu apa-apa? Mengapa kamu seolah tak peduli? Mengapa kamu seakan menutup mata akan keadaan saya yang sedang membutuhkan kalian? Kalian tak sehangat dulu. Kalau memang ada kesempatan kita bertemu atau berkirim pesan lagi saya hanya meminta supaya kalian memberitahu dimana perubahan saya dan apa yang harus saya lakukan. Karena jika kalian terus mengatakan saya berubah tanpa memberitahu saya dimana letak kesalahannya saya akan terus melakukan itu dan tersesat jauh. Saya tidak marah. Saya hanya kecewa dan merasa saat saya jatuh miskin dan tak punya apa-apa semua menjauhi saya termasuk kalian teman-teman saya. Tapi saya tahu bahwa cepat atau lambat semuanya pasti berubah. Karena butuh sebuah perubahan untuk sebuah kedewasaan. Saya mengerti bahwa hidup bukan hanya tentang saya. Bahwa urusan kalian bukan hanya mengurusi saya. Bahwa waktu kalian 24/7 bukan hanya untuk menghibur saya. Kalian punya hidup kalian sendiri. Punya kesibukan sendiri. Ini hanya perasaan sensitive saya karena saya sedang kesepian dan merasa kalut. Saya tidak akan marah saat kalian tidak membalas pesan saya atau pertanyaan saya. Saya tidak akan marah saat kalian menghapus saya dari media sosial. Karena itu semua salah saya. Saya yang pertama mengaktifkan facebook dan mengirimi kalian pesan walau hanya kalian baca tanpa di balas. Saya yang pertama mengundang kalian yang pada akhirnya pesan saya hanya di baca sedangkan kamu menganti-ganti pm. Atau saat saya di dc. Saya tidak tahu darimana orang lain bisa mendapatkan kontak saya karena saya hanya mempunyai dua teman di media sosial tersebut. Saya tidak tahu perasaan saya saat ini. Hanya saja saya mempertaruhkan segala hal untuk menghubungi kalian dengan segala kemungkinan yang akan menyulitkan saya ke depannya dan ini yang saya dapatkan. Setidaknya saya sudah mencoba untuk menghubungi kalian walau saya rasa itu sia-sia. Saat ini saya menonaktifkan akun facebook saya dan meninggalkan akun twitter saya untuk waktu yang saya tidak tahu. Ini adalah cara saya menekan perasaan saya supaya tidak menghubungi kalian serindu apapun.
tak perlu kecewa ketika orang lain berubah, sebab seseorang butuh perubahan untuk mendewasakan dirinya sendiri. -Ara Tiara Rismala
Saya memang bukan orang baik-baik. Saya bukan orang suci. Saya masih pendendam, pembangkang, dan pemarah.
Saya menyadari bahwa banyak sekali hati yang saya sakiti. Sifat saya yang akan bungkam seribu bahasa saat saya sedang marah juga membuat orang lain sakit hati. Sifat tak peduli saya. Kata-kata tajam yang terlontar dari mulut saya.
Terkadang saya tidak sadar dengan apa yang sudah saya ucapkan. Mengapa saya selalu mengatakan kata-kata kasar dengan reflek tanpa memikirkan perasaan orang lain. Mengapa saya selalu mengatakan kata-kata jahat dan hinaan untuk membuat saya tertawa.
Saya yang selalu mengeluh dan tak percaya pertolongan Tuhan. Tak percaya bahwa ada sebuah keadilan. Dan ketidakpercayaan saya akan sebuah kebahagiaan yang sudah membuat jiwa saya sangat kelam dan menjauh dari Tuhan. Di saat yang berlawanan kakak dan orang tua saya sangat percaya akan pertolongan Tuhan. Dan melihat bagaimana kakak saya menghadapi semuanya dengan sangat santai, menghadapi semuanya dengan bahagia walau dalam kesulitan, sangat menikmati hidup membuat saya sadar bahwa saya tidak harus terus seperti ini. Saya tidak ingin berjanji untuk menjadi yang lebih baik dengan cepat karena hati manusia bisa berubah kapan saja tapi saya akan belajar untuk mengurasi sikap dan sifat jelek saya.
Dan satu hal yang saya tahu dari ini semua, teman-teman kakak saya yang ibu saya bilang urakan dan anak nakal jauh lebih care dan selalu ada menemani kakak saya walaupun keadaanya tidak sama lagi.
Melihat seseorang memang jangan dari penampilannya.

Comments
Post a Comment