Tentang Pulang Dan Rindu

Hari ini aku sudah mendengar pertanyaan ini berkali-kali dari orang yang sama, entah maksudnya apa.

"Mba Dewi kangen rumah ya?"
"Mba Dewi kangen kamar nya ya?"

Tak perlu jawaban.

Mungkin senyum canggungku tak bisa buat ia mengerti supaya tidak banyak bertanya lagi.

Kembali lagi. Aku malas berbasa-basi. Biarkan orang berspekulasi sesuai pikiran masing-masing.

Mengungkit informasi, eh?

Apakah cerita hidupku sungguh menarik di mata orang-orang? Entahlah.

Aku sudah lupa semuanya.

Aku sudah lama menengok kebelakang hingga aku sering kali tersandung ketika berjalan, jadi bisakah kali ini aku menatap masa depan saja?

Aku tak pandai menjelaskan semuanya secara langsung. Perasaanku, ceritaku, sakitku. Aku kira saat kita sudah dewasa kita mengetahui apa namanya privasi?

Aku tak pernah menyinggung kehidupanku secara langsung. Jika kaki ku sudah berjalan aku tak mungkin berbalik arah, merengek seperti anak kecil yang meminta pulang karena aku sudah besar.

Aku pikir biarkan semua nya berjalan sesuai rencana Tuhan. Baik buruknya aku harap suatu hari nanti aku bisa menceritakan kisah hidupku kepada anak cucu ku kelak. Bagaimana aku jatuh dan bangkit.

Jangan tanyakan soal rindu padaku. Ku tahu pasti semua orang tahu jawabannya. Tapi saat kau beranjak dewasa kau akan mengerti bahwa hidup adalah seperti ini. Bukan hanya soal tertawa dan bahagia. Ada berbagai rasa yang akan menemanimu beranjak dewasa; sakit, luka, sedih, kecewa, putus asa. Apapun itu semua itu adalah bagian dari perjalanan.

Kehidupan adalah seperti ini. Seperti kata pepatah roda pasti berputar. Satu hal agar hidupmu ingin berubah pastikan agar rodanya terus berputar dan tak berhenti. Bagaimana caranya? Kerja keras.

Jika keadaanku memang harus seperti ini sekarang, ya sudah. Mau apa lagi? Bukankah semua harus di syukuri?

Di atas segala perih, aku sadar Tuhan selalu memberikan kebahagian walau dalam bentuk kecil. Namun jika kita menyadarinya dan bersyukur, sesuatu kecil itu bisa membuatmu bertahan menjalani kerasnya kehidupan.

Saat aku merindukan segalanya yang ku lakukan adalah memejamkan mata, mempertajam ingatanku, merasakannya dengan hati. Menyentuh ruang kosong yang penuh dengan kenangan. Aku bisa mengingat segalanya walau samar. Namun ku jadikan semua itu pulang. Awalnya memang sulit dan membuatku menangis. Merindukan segala yang sudah pergi, ingin menggenggam yang sudah terlepas, ingin menjalani yang sudah berlalu, ingin memiliki yang sudah tiada. Di dada rasanya sakit sekali. Rasa sesak yang seperti mencekik. Tapi pada akhirnya aku sadar, inilah hidup. Di masa depan mungkin aku akan mengalami masa-masa yang tak terduga, jadi kujadikan semua ini sebagai pembelajaran supaya semakin kuat.

Namun aku sadar yang aku butuhkan adalah belajar menerima. Memulai hidup dari nol lagi. Seperti bayi yang baru belajar jalan lagi. Jalan sedikit goyang jatuh. Berdiri lagi. Jalan sedikit jatuh. Berdiri lagi. Berjalan. Berjalan. Berlari.

Karena hanya diri sendiri yang bisa merasakan segalanya. Orang boleh mengatakan "aku mengerti perasaanmu" namun tak ada yang mengerti lebih dari diri sendiri.

Ku harap ke depannya orang lebih belajar toleransi.

Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love