Monster Dalam Diri Manusia
Semoga siapapun kamu jika nanti kamu sedang kesusahan tidak akan ada yang mengambil keuntungan dari kesusahan kamu seperti yang sekarang kamu lakukan pada saya.
Saya sadar bahwa saya tidak pernah ingin kembali ke sana, selama ini saya selalu mengatakan ingin kembali lagi alasannya saya ingin menyaksikan secara langsung bagaimana kalian mati. Bagaimana kalian menderita.
Untuk apa saya kembali kesana jika disana tidak saya dapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Saya sadar semuanya sudah sangat berubah dan kembali adalah kebodohan karena melakukan hal yang sia-sia.
Saya tahu bagaimana tanggapan kalian pada saya karena saya tahu cerita apa saja yang beredar tentang saya. Tapi otak kecil kamu terlalu liar untuk membuat sebuah cerita hanya dari omongan segelintir orang yang sok tahu akan hidup orang lain. Saya terkesan akan fantasi kamu yang sangat imajinatif membuat sebuah cerita. Tapi ini bukan pelajaran mengarang bebas, yang kamu karang adalah hidup saya yang bahkan kamu tidak kenal saya dengan baik.
Sebagian dari kamu tidak memiliki empati yang baik. Tidak mengerti perasaan orang lain asal kamu untung menghalalkan segala cara akan kamu lakukan. Apa bedanya pembunuh dengan kamu? Keduanya sama-sama iblis dalam bentuk manusia hanya saja seorang pembunuh lebih berani dan tidak pengecut. Ia berani melakukan dengan terang-terangan sedangkan kamu berlindung pada topeng. Namun sama saja keduanya tidak dapat saya sebut sebagai manusia beradab. Pernahkah kamu berfikir bahwa di diri kamu tumbuh seorang monster. Monster kecil yang timbul dari rasa iri dan terus tumbuh besar karena rasa dengki yang semakin menjadi-jadi, mengambil alih tubuhmu. Akhirnya jika kamu tidak suka sesuatu atau menginginkan sesuatu kamu akan pilih jalan pintas. Pembunuh secara langsung dan tukang teluh sama-sama akan di hukum. Pembunuh akan di hukum dalam hukum dunia, akan masuk penjara, diadili, bahkan di hukum mati. Tukang teluh tidak semua orang mengetahui perbuatannya, ia akan bebas dalam semua perbuatannya tapi bukankah setiap perbuatan akan ada balasannya di akhirat? Maka tinggal menunggu saja.
Saya tidak mengerti kenapa dari dulu orang-orang yang dekat dengan keluarga saya bahkan sudah kami anggap keluarga pada akhirnya mengkhianati kami semua. Bahkan sejak saya smp saya sudah khawatir jika ada orang yang dekat pada kami karena pada akhirnya akan seperti itu. Dengan pola yang sama baik-peduli-lalu entah kenapa menjadi iri-lalu berakhir dengan mengirimi kami teluh dengan harapan kami jatuh bangkrut dan mati. Pertama guru ngajiku orang yang mengerti sekali akan agama dan dipandang terhormat di sekitarnya akan ketaatan keagamaannya, sudah sangat dekat dan dianggap keluarga, lalu memberi kami kejutan dengan berubah menjadi orang yang membenci kami mati-matian dan ingin menghancurkan kami. Bahkan sudah 10 tahun berlalu kebenciannya tidak berkurang sedikitpun hanya karena aku bisa membangun rumah. Kedua adalah keluargaku, kakak kandung bapakku sendiri. Lihat, bagaimana saya bisa percaya pada manusia jika keluarga sendiri ingin agar kami hancur dan mati. Saya sudah sangat baik dengan tidak membalas satu pun perbuatan mereka, masih mengganggap baik mereka, mempersilahkan mereka datang ke rumah ku dengan tangan terbuka, menjalin silaturahmi. Namun jika dalam kenyataanya yang mereka inginkan adalah harta kami sudah tidak aneh jika mereka menyingkirkan kami bagaimana pun caranya. Ketiga, orang luar yang tiba-tiba mendekat lalu menjadi kawan. Orang-orang yang jago sekali membual akan omong kosong dan kepedulian. Orang-orang seperti kalian bukan satu atau dua yang sudah saya temui dalam hidup saya dan sungguh orang seperti kalian memuakan. Apakah dalam diri kami ada energi yang membuat orang lain berubah benci jika sudah berteman baik dengan keluargaku? Apa salah keluargaku sebenarnya? Saya tidak pernah mengatakan ini pada siapapun, saya selalu diam dan tidak mau ikut campur dalam setiap obrolan tentang mereka karena saya sudah sangat muak mendengarnya namun diamku bukan tidak perduli. Saya orang yang pertama yang sangat ingin melihat bagaimana cara mereka mati. Mungkin terlihat jahat, tapi bukankah mereka melabeli ku penjahat jadi disini saya hanya mewujudkan fantasi liar mereka. Saya ingin menghancurkan mereka tapi tidak mau dengan tanganku sendiri, semarah apapun saya seingin apapun saya membuat mereka merasakan apa yang saya rasa saya masih takut dosa. Saya yakin bahwa karma akan selalu ada, mungkin suatu hari nanti mereka akan merasakan apa yang saya rasakan dari orang lain.
Saya sudah melihat topeng orang-orang. Mungkin yang lainnya melihat mereka orang yang baik taat akan agama, tahu yang baik dan tidak. Tapi sesuci apapun anggapan orang lain di diri setiap manusia selalu hidup seorang monster. Tinggal bagaimana kita bisa mengendalikan tubuh dan jiwa kita supaya tidak diambil alih oleh monster tersebut. Terkadang manusia suka menganggap dirinya suci, menganggap dirinya orang terhormat tapi di mata Tuhan siapa tahu? Bisa saja orang yang kamu anggap rendah justru derajatnya lebih tinggi dari kamu di mata Tuhan.
Saya kecewa. Di saat saya sedang dalam kesusahan kenapa orang-orang berlomba mengambil keuntungan. Saya memang bukan orang yang baik tapi bayangkan jika apa yang terjadi pada saya kamu juga mengalaminya.
Mereka iri terhadap rezeki yang kami dapatkan dan langsung membuat cerita bahwa kami melakukan segala cara. Nyatanya kami mendapatkan rezeki secara halal sedangkan orang-orang yang menggembar-gemborkan fitnah justru ia sendiri yang melakukannya. Haji, taat akan agama, ramah, baik, terlihat alim nyatanya memelihara tuyul, pesugihan ini dan itu, membuat kamuflase dengan berjualan atau bekerja sesuatu. Orang lain mungkin bisa kalian bohongi tapi serapat mungkin bangkai di sembunyikan baunya akan tercium juga, cepat atau lambat dunia akan tahu kebusukan kalian. Kalian iri karena saya si miskin yang selalu kalian hina-hina bisa merangkak naik padahal hidup kalian datar-datar saja, bukankah itu alasannya? Harusnya berkaca sendiri apa kekurangan kalian. Mungkin sifat kalian, omongan kalian yang suka menyakiti orang lain, hati kalian, sikap kalian, iman kalian yang shalat dan mengajinya sangat rajin tapi meneluh orang lain juga rajin. Masih banyak faktor lainnya. Satu yang sampai detik ini saya yakini, kami tidak pernah membalas apapun perbuatan kalian, kami tidak pernah menghalangi rezeki siapapun, kami selalu sabar akan perbuatan mereka, dan Allah membalasnya dengan melancarkan rezeki kami. Itu yang saya yakini. Semua berkah dari Allah. Dan kalian juga cobaan dari Allah.
Kekecewaan saya sangat besar pada orang-orang yang saya kenal baik tapi malah mencari keuntungan dari kesusahan yang sedang saya dapatkan. Itu semakin membuat saya percaya bahwa di dunia ini tidak ada satu orang pun yang tulus. Mereka berteman baik bila ada untungnya saja. Mereka mengganggap saya jika saya menguntungkan. Saya sudah biasa di bohongi. Saya sudah biasa di anggap bodoh sehingga mudah sekali di tipu. Saya tidak bisa melakukan apapun selain mencurahkan perasaan saya pada tulisan ini, saya tidak bisa menghentikan apa yang mereka lakukan, saya hanya yakin siapapun yang mengambil keuntungan dari semua kesusahan saya akan ada balasannya nanti.
Saya tidak bisa menghentikan fantasi liar kamu terhadap saya karena saya tidak ada di sana untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, saya juga tidak bisa menghentikan rasa benci kalian pada saya, saya bukan orang baik-baik. Saya tahu itu. Saya bukan orang suci.
Apa yang sedang saya alami semoga kamu juga merasakannya, jadi kamu tahu bagaimana rasa sakitnya semua perbuatan yang kalian lakukan pada saya selama ini. Disini juga saya tidak sedang playing victim. Saya tahu saya juga sudah membuat kamu kesusahan sebab perbuatan saya. Saya hanya ingin agar kamu sedikit sadar bahwa bukan hanya kamu saja korbannya. Saya tidak sedang mengemis supaya kalian mengasihani saya atau mempercayai saya. Sudah saya katakan untuk percayai apa yang kalian ingin percayai. Saya hanya menjelaskan perasaan yang saya rasakan. Saya menulis supaya saya tetap waras dan tidak gila.
Saya tidak pandai untuk mengungkapkan perasaan saya dengan berbicara langsung, saya tipe orang yang memendam marah dalam hati dan itu semua semakin menyakiti tubuh saya sendiri. Jadi saya mengekspresikannya lewat tulisan. Karena hanya dengan menulis saya bisa jujur akan perasaan saya sendiri. Karena menulis bisa membuat saya berfikir lebih jernih. Karena menulis bisa meredam amarah saya dengan begitu mudah. Karena menulis bisa membuat saya belajar menerima semua yang saya alami sekarang.
Tuhan, saya tidak ingin kembali. Saya hanya ingin hidup bahagia selamanya dan hidup bersama dengan orang-orang yang tulus menyayangi saya.

Hai, boleh kenalan? Mampir-mampir deh ke blog ku..
ReplyDeleteHalo.. maaf baru balas. Aku udah liat blog kamu, ceritanya bagus-bagus
DeleteGadis cupu yang sering galau karena nilai, apa kabar? ^^
ReplyDelete:) Alhamdulilah baik, kamu?
Delete