Ketololan Si Peragu
Simpanan uang sudah menipis hanya cukup untuk berapa hari ke depan sambil melamunkan harga-harga barang dan makanan yang semakin hari semakin mahal saja. Apa yang harus dilakukan, pikirnya.
Aku harus bekerja! Aku harus bekerja paruh waktu untuk beberapa kerjaan dalam satu hari. Aku masih kuat kalau bekerja sampai jam 1 malam. Kalau aku berhemat lebih ketat lagi maka aku bisa membeli apa yang aku butuhkan.
Itu lah pikirannya. Pikiran yang sangat menggebu-gebu karena disertai angan untuk kesenangan.
Nyatanya, saat dihadapkan pada peluang semua semangatnya runtuh. Kakinya gemetar, peluhnya menetes, bicaranya gagap. Ketakutan.
Lagi-lagi ia melangkah mundur untuk masa depan. Lagi-lagi ia mengikuti rasa takutnya. Dan mengecewakan orang-orang di sekelilingnya.
Lalu saat peluang hilang yang ada tinggal penyesalan.
Simpanan uang menipis dan hanya cukup untuk berapa hari ke depan. Apa yang harus aku lakukan? Bekerja! Ya aku akan bekerja.
Terus seperti itu berputar-putar pada kubungan yang sama.
Aku bertanya kenapa tak mencoba?
Aku takut jawabnya.
Susah memang bila kehidupan ingin berubah sedang ia sangat takut akan perubahan itu sendiri.
Hati kecilnya menjerit. Berteriak tak terima mengapa ia menyatu dengan orang sepengecut itu. Ia yang takut ia sendiri yang menyalahkan semua.
Mimpi-mimpinya sungguh tinggi tapi saat melihat kenyataan aku melihat tak ada impian di matanya. Kosong. Hanya ada rasa tak terima dan amarah.
Ia membenci semua orang akan hidupnya yang menyedihkan, ia membenci semuanya sampai membenci dirinya sendiri.
Bagaimana kau akan bahagia bila dirimu sendiri tak kau terima? Tanyaku.
Ia hanya diam.
Kau peragu yang tolol.
Sampai kapan kau akan hidup dalam ketakutan-ketakutan mu yang bahkan kau tidak tahu apakah itu akan terjadi atau tidak? Kuatlah. Setidaknya kuatlah untuk dirimu sendiri. Kau pun tahu sendiri dunia ini sangat kejam. Kau pun tahu sendiri kau di tinggalkan saat kau tak punya apa-apa, saat kau tak berguna. Kau pun tahu sendiri bahwa di dunia yang fana ini tidak ada yang namanya ketulusan dan kau hanya perlu belajar untuk tidak terlalu naif memandang kehidupan. Kau harus bisa menghilangkan perasaanmu, karena saat kau gunakan perasaan dalam setiap tindakan akhirnya kau akan kalah. Hiduplah dalam realita dan bangun dari mimpi bodoh mu. Kehidupan yang baik tidak ada. Semua harus ada pengorbanan.
Jangan menangis. Kuatlah. Lawan ragumu. Kau bisa. Kau tidak bodoh. Kalau orang lain bisa kenapa kau tidak?
Mari mencoba.
Langkahkan kakimu keluar lingkaran. Belajarlah jalan lagi dari awal. Aku tahu kau bisa.
Karena jika kau terus ketakutan dan tak melakukan apa-apa kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri.
Jadi berhenti menjadi peragu yang tolol.
Comments
Post a Comment