Lelaki Bunglon
Kepada lelaki bunglon yang selalu meneriakan kepedulian palsu.
Hi! Sudah lama sekali kita tidak bertukar kabar, menanyakan tentang keadaan masing-masing. Aku tidak mau banyak berbasa-basi karena besar kemungkinan atau bahkan mustahil kamu membaca tulisanku ini.
Kamu tentu tahu benar bagaimana watak dan kepribadianku. Bagaimana sifat dan sikap ku menghadapi semua situasi ini, kau melihat aku tertawa, kau melihat aku marah, bahkan kau melihat bagaimana aku menangis meraung-raung, dan untuk orang yang mulanya asing sepertimu semua emosiku sungguh berlebihan.
Kamu juga tentu tahu bagaimana sikap ku kepadamu, kamu juga tentu tahu bahwa aku yang paling menunjukan kewaspadaan dan sikap tak percaya di saat keluargaku yang lain mempercayaimu dan bersikap baik padahal tahu sifat asli mu, namun tetap saja aku tidak pandai menunjukan sikap kurang suka ku. Memang selama ini diantara semuanya aku yang paling sering diam tapi diamku sungguh menyimpan rasa amarah yang sangat besar dan membuat hatiku menghitam.
Kamu itu abu-abu. Ditengah-tengah warna hitam dan putih. Kamu mengerti semuanya lebih daripada pemahaman dangkal ku terhadap kehidupan yang keras ini, kamu mengerti lebih jauh terhadap dunia yang tak bisa aku lihat dengan kasat mata, kamu mengerti lebih jauh tentang pemahaman agama daripada aku yang mengaji saja belum benar. Tapi banyak sekali pertanyaan di otak kecil ku ini, beribu pertanyaan mengapa dan mengapa atas semua tindakan yang kau lakukan padaku? Aku mengerti bahwa keluargaku dan aku terlalu tolol untuk diam dan menerima semua perbuatanmu, dan terus saja bersabar menerima ini semua.
Tolol. Tentu yang aku lakukan tolol, diam dan terus bersabar.
Kamu yang selalu aku sebut dengan lelaki bunglon dan perumpamaan bagai air di daun talas. Kamu adalah orang yang tahu dengan sangat jelas apa yang terjadi padaku, tahu dengan detail apa masalahku, kamu jauh lebih tahu apa yang terjadi dibanding aku sendiri. Tapi kenapa kamu sangat jahat sekali?
Dari semua masalah yang aku hadapi ini, dari kejatuhanku yang sangat menyakitkan, dari semua cemoohan dan hinaan orang-orang, dari segala kehilangan yang aku alami tidak pernah membuatku ingin mengakhiri hidupku, tapi satu perbuatanmu yang paling menggoncangkan psikologisku membuatku untuk menangis meraung-raung, tangisan termenyedihkan selama aku hidup hingga aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku dan merencanakan kenistaan hidup yaitu bunuh diri bukan karena kejatuhanku ini tapi karena perbuatanmu. Tapi lihat sekarang aku sudah bangkit dan baik-baik saja.
Kamu tentu tidak tahu sudah berapa banyak kesakitan yang sudah kamu torehkan kepada orang lain, karena bagimu selama itu menguntungkan menjatuhkan orang lain tidak masalah. Tapi manusia pengecut melakukan tindakan menjatuhkan orang lain supaya meroket lebih tinggi. Bukan begitu?
Tentu saja aku mengingat jasa-jasa baikmu terhadap hidupku, entah itu tulus atau memang kau menginginkan sesuatu aku berterimakasih untuk itu semua.
Terlepas dari sekarang topeng mu sudah terbuka tapi kami disini masih mempercayaimu walau aku tahu sekarang yang kau lakukan sedang menipuku walaupun kau tahu jelas bagaimana keadaanku yang sudah tak punya apa-apa lagi.Tapi sekali lagi hanya harapan yang aku pegang, semoga si bunglon ini sadar akan semua perbuatannya dan tidak melakukan tindakan jahat ini kepada orang lain, cukup lah aku dan keluargaku saja.
Aku berdoa untukmu semoga kamu selalu dalam lindungan Allah, selalu sehat dan bahagia, rejeki yang halal mengalir dengan mudahnya, semoga hidupmu menyenangkan. Tentu aku marah dan kecewa atas tindakan orang-orang yang dengan begitu teganya menyakitiku termasuk kamu, tapi yang bisa aku lakukan hanya mendoakan saja. Karena apalah yang bisa di lakukan bocah kekanakan ini menghadapi orang dewasa seperti kalian. Aku tahu sudah banyak dosa kepada mereka dan belum bisa membayar hutang-hutangku. Semoga saja Allah membantuku membayar semuanya.
Teruntuk kalian semua yang namanya tak bisa aku sebutkan satu persatu, yang masih dengan rajinnya berusaha menjatuhkanku dengan bantuan setanmu, sudahlah aku salah apa sebenarnya? apa kau tidak bisa melihat aku sudah tidak punya apa-apa lagi apa yang sekarang kau iri kan? Haruskah nyawaku lenyap juga? Kalau aku mati duluan siapa yang akan membayar hutang-hutangku? Kalian? Tidak mungkin kan. Kalau aku mati duluan tak cekek kalian satu per satu. Haha oke bercanda. Kalau mati yaudah.
Semoga siapapun kalian yang masih melakukan persekutuan dengan yang ghaib semoga cepat tersadar ya, karena sebahagia apapun kalian di dunia ini dengan segala kemewahannya tetap saja itu hanya fana, hanya kesenangan sesaat, saat waktunya tiba dan habis waktu kalian yang bisa kalian lakukan hanya menyesal dan sebuah penyesalan tidak ada gunanya.
Semoga kita semua bisa bahagia tanpa harus menyakiti orang lain terlebih dahulu.
Comments
Post a Comment