Di Batas Kehidupan

Memikirkanmu adalah hal yang terus menerus aku lakukan seberapa keras pun aku berusaha mengatakan aku sudah tak lagi peduli. Melihatmu bahagia, melihatmu tertawa, mengapa begitu menyesakan dada? Bukankah kesedihanku bukan tanggung jawab orang lain untuk membahagiakannya. Aku terus bertanya-tanya mengapa aku selalu berbeda, memikirkan segala hal dan mudah terluka.

Kesendirianku mungkin karena aku yang memilihnya atau memang aku di takdirkan untuk sendirian. Untuk hidup hanya dengan pikiranku sendiri. Aku yang selalu menyukai lagu-lagu sendu dan lagu yang sama seperti perasaanku dan orang-orang mengatakan aku aneh. Aku yang selalu suka kata-kata. Aku yang suka gelap, mendung, hujan, sunyi. Lalu orang-orang mengatakan aku aneh.
Orang-orang selalu berkata nikmati hidupmu Dewi! Belilah apa yang kau suka, pakai apa yang kau mau. Untuk satu waktu nikmati hidupmu. Bahkan seseorang yang baru ku kenal mengatakan itu, apakah terlalu mencolok kesedihanku?

Aku tidak sedih. Aku hanya bingung tentang hidupku. Terlalu banyak percakapan di kepalaku. Gelisah yang tak bisa aku ceritakan pada siapa pun. Karena aku mengerti saat aku bercerita yang ku dapatkan hanya penyalahan akan semua yang aku rasakan.

Aku begitu menyayangi keluargaku. Mencintai orang tua ku. Aku rela jika aku harus bekerja keras hanya untuk melihat senyum mereka, untuk mendengar mereka tertawa. Walau aku bingung hidup apa yang sedang aku jalani ini. Aku selalu merasakan bahwa hidupku tidak normal seperti keluarga lainnya. Aku hidup selalu dikelilingi hal-hal gaib yang selalu membuat aku lelah dan marah. Aku rasa keluarga orang lain tidak berurusan dengan masalah santet, tidak jadi kelinci percobaan ilmu hitam seseorang, tidak jadi tumbal pesugihan seseorang, tidak di sakiti dan di benci oleh orang di sekelilingnya, aku rasa keluarga orang lain saling menyayangi tidak seperti keluargaku yang bahkan mengalir darah yang sama, dengan menyandang kata "kandung" bisa dengan teganya berusaha melenyapkan kami. Hidup seperti apa ini semua?

Aku yang hidup dengan menyimpan dendam di dadaku. Rasanya aku seperti orang jahat saja menyimpan sesuatu yang busuk. Aku yang selalu marah. Aku tidak apa-apa kehilangan hartaku, kehilangan rumahku, yang aku tidak bisa terima sampai detik ini kenapa mereka begitu tega. Kenapa meraka orang yang selalu dianggap baik, dipandang, dihormati, bisa setega ini. Maafkan aku karena sampai detik ini pun aku masih berharap kalian merasakan apa yang aku rasa, aku masih berharap kalian mengalami kehancuran yang lebih dariku, mengalami kematian yang menyakitkan seperti yang biasa kalian lakukan padaku saat mengirim santet yang sangat pedih dan berharap kami mati. Maafkan aku karena harapanku yang sangat kejam pada kalian. Aku hanya belum bisa terima mengapa kalian bisa setega itu. Aku selalu berdoa supaya aku bisa ikhlas seratus persen dan memaafkan kalian dengan tulus, tapi saat kalian melakukan hal itu lagi, menyantet dan menyakiti kami lagi dendam ku kembali menguap menguasai hatiku. Namun percayalah dalam waktu yang terus berlalu aku selalu mencoba untuk memaafkan kalian terus menerus. Tidak ada sumpah keji atau apapun untuk kalian yang ingin aku katakan saat aku sudah tenang. Namun kenapa lagi dan lagi kalian membuka luka lamaku?

Kenapa aku selalu menulis hal-hal seperti ini? Pasti orang-orang akan semakin membenciku karena tulisanku ini. Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin mencurahkan perasaanku saja. Karena aku tidak punya teman untuk aku berbagi.

Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love