paper towns; people and miracle

Mungkin semua orang pernah berharap akan sebuah keajaiban, berharap ada sebuah keberuntungan yang memang khusus Tuhan berikan padanya tapi tak selamanya semua orang itu spesial. Yang harus dilakukan adalah menyadarinya sebelum terlambat sebelum waktu yang terbuang sia-sia semakin banyak.

Selalu ada cemas yang hadir saat aku mengingat hal-hal buruk dalam hidupku menyiksaku untuk semakin jauh merasakan bahagia aku tau yang harus aku lakukan adalah menjalani hidupku dan menjadikannya hanya sebatas ingatan yang harus aku kunci dan tidak perlu terlalu sering di buka.

Aku melihat keajaiban hadir pada orang yang aku anggap tidak mungkin tapi mungkin itulah cara tuhan bekerja; tak terduga-duga. Kita sering kali meremehkan sesuatu dan tidak menyadari kehancuran diri sendiri itulah yang terjadi denganku. Aku melihat semua teman-temanku dengan hidup mereka yang berwarna, pada akhirnya semuanya hanya akan menjadi kenganan cepat ataupun lambat. Aku akan dilupakan seiring berjalannya waktu dan begitu pun mereka di pikiranku. Mungkin aku terlambat dewasa untuk menyadari semuanya dan menyalahkan semua hal untuk rasa kecewa yang aku rasa.

Akhirnya aku tiba pada sebuah titik henti. Aku melihat mereka tapi tak lagi menangis, aku mengingat mereka tapi tak lagi berfikir untuk membenci mereka sampai mati. Aku mengerti semuanya teman-temanku, keluarga yang mengkhiantiku, orang-orang yang membenciku dan menginginkan aku tiada mereka semua pernah hadir di hidupku dan menjadikan diriku yang sekarang. Semuanya pernah ada pada masa bahagia sebelum sekarang aku mati rasa.

Aku tidak bisa bilang bahwa sekarang aku bahagia karena aku juga bingung atas semua yang aku rasakan di hidupku tapi aku merasa aku baik-baik saja. Yang sekarang aku lakukan adalah mencoba untuk menikmati hidupku karena aku tau bisa saja aku tiba-tiba mati.

Bukankah Tuhan sangat baik padaku setelah semua dosa yang aku lakukan?

Rasanya banyak sekali lagu yang pas untuk keadaan dan perasaanku, seakan semua menyanyikan akan hidupku, seakan semua mengingatkan ku untuk aku tahu diri, seakan semua mengajaku untuk masuk lebih dalam pada kebencianku, seakan semuanya menamparku sampai aku remuk tak berbentuk.

Rasanya semua kata-kata tercipta untuk menceritakanku, seakan semua duka adalah temanku, seakan-akan aku merasa sekarang hitam adalah warnaku. Gelap dan mendung, kabut dan embun, bayangan dan angin rasa-rasanya itu adalah diriku.

Wajahku selalu sendu seakan-akan aku tak tahu bagaimana cara tertawa. Yang pasti aku merasa canggung untuk sebuah senyum dan tawa. Aku merasa ekspresi itu tidak pantas untuk wajahku. Aku suka rambutku yang sangat pendek seperti sekarang setidaknya aku berhasil memotong rambut yang tak bahagia karena ia tumbuh bersamaku, bersama orang yang tak bisa merawatnya.

Suatu kali aku membeli baju baru supaya merasakan berbeda, hari itu aku merasa hidup dan merasa seperti manusia normal tapi itu hanya terjadi satu hari esoknya aku merasa sama lagi bosan akan hidupku yang seperti ini.

Aku sudah lama tidak berteman dengan kamera seperti remaja seusia ku lakukan yang selalu melakukan selfie setiap hari untuk menunjukan apa yang ia punya supaya dunia tau. Aku lebih suka mewakilkan kata untuk wajahku.

Aku suka melihat orang lain tertawa dan bahagia walau bukan aku yang merasakannya tapi aku suka melihatnya. Jadi aku berharap Tuhan membagikan kebahagiaan pada kalian semua karena aku senang melihatnya.

Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love