Back to December

Terperangkap pada masa, pada ruang kosong yang bernama masa lalu menatap serpihan serpihan memori yang membelenggu ingatan.

Kaki-kaki penuh putus asa, menggantung harapan pada sebuah keyakinan. Seiring waktu yang bergulir kadang keyakinan itu semakin menipis dan bisa menebal bagaimana hati memainkan peran.

Ketakutan bagaikan sebuah kutukan yang selalu menemani bahkan disaat orang lain meninggalkan sendirian.

Pagi yang berbeda namun masih terdengar suara laut lewat angin, dingin yang menusuk, embun yang melenyap di bakar cahaya membuat diri bersyukur masih bisa membuka mata.

Semua orang punya kesakitannya masing-masing. Selagi masih bernafas tidak seharusnya menyerah akan kehidupan walau sering kali rasanya dibuat tidak mampu. Aku merasa kecil di dunia yang sebesar ini, dan hanya karena luka yang ku rasakan rasanya aku terlalu egois jika memilih menyerah pada kematian. Kesakitan yang menyelimutiku ku jadikan sebagai acuan untuk aku belajar lagi menjadi manusia yang benar benar manusia, belajar akan kedewasaan, belajar akan hidup yang sesungguhnya.

Rasanya lucu jika di pikir bagaimana waktu bisa sangat mudah mengubah keadaan. Bahkan dalam hitungan detik hidupku bisa berubah menjadi seperti ini. Tapi mungkin dari awal Tuhan sudah merencanakan hidup ku harus seperti ini dan yang bisa aku lakukan adalah mengikuti takdir.

Aku masih ingat akan pasir yang ku genggam terakhir kali, menjadi sosok yang di pandang aneh oleh orang-orang, menjadi bahan cibiran dan cacian sebagian orang. Menahan sakit seorang diri karena semua orang meninggalkan, menyisakan keegoisan masing-masing berebut siapa yang paling sakit dan menuduh satu sama lainnya. Aku masih ingat akan langit yang aku pandang terakhir kali, dan saat itu aku menyadari bahwa mungkin itu adalah kesempatan terakhir ku untuk melihat semuanya, sungai yang aku lewati, jalanan yang aku lewati, aku menyadari bahwa saat aku pergi berarti aku sudah kalah. Terlepas dari pembelaanku untuk menyelamatkan diri aku tetaplah jadi sosok yang kalah pada sebuah skema kehidupan yang tidak begitu aku mengerti. Kalah karena mengalah pada keadaan. Satu yang aku harus terima saat itu juga adalah kenyataan bahwa aku harus menerima menjadi sosok apapun yang di nyanyikan orang-orang, menerima segala tuduhan, menerima segala fitnah yang bahkan tidak aku lakukan. Karena aku yang pergi dalam keadaan hidup, aku mengerti jika mereka geram dan marah karena aku tahu keinginan mereka aku pergi dalam keadaan mati.

Rasanya sangat susah untuk bangkit dalam sosok ku, karena aku hidup dalam sebuah jiwa pengecut yang selalu takut bahkan dalam mimpi-mimpinya. Semuanya terasa sangat sulit karena aku terbelenggu dalam rasa amarah. Amarah yang kelam karena amarah ini lebih besar terhadap diri sendiri di bandingkan untuk orang lain. Karena setiap kali aku di sakiti aku akan marah pada diriku sendiri, menangis mengapa aku harus menjadi manusia lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa. Memaafkan diri sendiri ternyata sesusah ini.

Aku tidak ingin menyalahkan siapa pun atas jalan hidupku yang berliku, aku hanya meminta untuk jangan menyakitiku untuk apa yang tidak aku lakukan.

Memang tidak sepantasnya aku marah pada semua ini jika jalan ini sudah Tuhan rencanakan untukku.

Aku bingung untuk menceritakan perasaanku tidak seperti biasanya yang sangat mudah untuk aku tuangkan dalam sebuah tulisan. Kali ini semuanya kosong. Otak ku beku tidak tau harus berfikir apa, dan hatiku.. entahlah, mungkin mati rasa?

Aku tidak mengerti apa yang aku tulis kali ini, mungkin hanya sebuah omong kosong atau ucapan ngelantur yang orang gila katakan.

Aku hanya berharap di masa depan aku bisa membaca tulisan ini sambil tersenyum karena aku sudah mampu melewati masa-masa sulit ini dan hidup lebih baik.

Orang lain tidak tau hidup seperti apa yang sudah aku jalani, orang lain tidak tau kesakitan apa yang sudah aku rasakan, disini hanya aku yang merasakan seorang diri. Hanya pada tulisan aku bisa jujur dan berbicara, karena jika perasaan ini aku ucapkan dari mulut orang lain akan menghakimi ku bahkan orang tua ku sendiri. Aku mengerti. Tidak apa-apa aku merasakan semua ini seorang diri karena aku masih bisa meringankan beban yang semakin menghimpit dadaku ini dengan menulis. Untuk ketakutan-ketakutan ku yang membuat aku semakin terpojok dan semakin di persalahkan karena memiliki perasaan ini aku sangat berharap di masa depan aku masih bisa hidup dan menjadi lebih baik.

Walau rasanya sedih sekali harus menyimpan ini sendirian, ketakutan pada diri sendiri, marah dan benci pada diri sendiri. Rasa ini tidak mudah untuk aku taklukan. Hanya pada tulisan dan angan indah yang bisa aku bayangkan sebelum tidur ku aku bisa jujur menginginkan apa yang aku mau dan menjadi diriku sendiri karena dalam kenyataan aku hanya menjadi manusia menyedihkan. Yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya dan hanya bisa marah-marah dan itu membuat aku semakin membenci diriku sendiri.

Tapi jika di pikir untuk apa aku tulis ini semua karena aku tau tidak satupun orang yang peduli, namun tetap saja aku ingin menuliskan ini semua. Deretan kata-kata yang membuat semua orang merasa kasihan terhadapku, mencibir atau berbahagia atas semua yang aku rasa. Entahlah aku hanya bisa menerka-nerka.

Untuk orang-orang di luar sana yang mungkin merasakan apa yang aku rasakan, marah pada diri sendiri, selalu merasa ketakutan akan semua hal, disakiti dan dikhianati oleh orang yang di sayang dan kamu merasa sendirian karena semua orang meninggalkanmu saat kamu terpuruk, dari dasar hatiku aku ingin sekali didekat kalian. Memeluk kalian, membisikan kata-kata penyemangat, menemani kalian supaya tidak kesepian, karena aku tau rasanya merasakan ini semua seorang diri tidak mudah. Aku tahu ini konyol tapi aku ingin kalian tahu bahwa kalian tidak sendirian, selalu ada orang yang menyayangimu walau hanya dalam diam, merindukan senyum mu setiap hari, berdoa agar kau bahagia dan sehat, memelukmu dalam hangat doa dan semangat, membantumu bangkit dan menerima. Aku tahu kamu pasti tertawa sinis membaca ini, karena bagaimana mungkin orang yang bahkan diri sendiri tidak bisa melakukan malah menasehati orang lain, aku tau dan mengerti aku konyol tapi aku ingin mengatakan ini semua pada semua orang yang sedang kesakitan dan kesepian dalam kesendirian.

Jika bahkan memang benar bahwa kau bersalah atau hina di hadapan manusia, Tuhan akan selalu memaafkan atas semua yang sudah terjadi jika kau bersungguh-sungguh berubah.

Untuk tulisan ini aku ingin mengatakan sesuatu yang hatiku selalu aku tutupi, terlepas dari yang aku tau aku bisa seperti ini karena ulah a, b, c, atau d, aku harus menerima jika apa yang ku dapat karna ulah diriku sendiri. Aku yang jarang beribadah dan segala dosa yang sudah aku buat. Aku mengerti, tapi maaf jika aku belum sampai pada tahap untuk sepenuhnya menerima dan tidak menyalahkan mereka. Walau aku mengerti mereka seperti itu sudah garis Tuhan untuk menegurku. Tidak, aku tidak menyalahkan Tuhanku atas semua yang terjadi pada hidupku walau sering kali aku bicara terlalu liar dengan menyalahkan Tuhan itu hanya emosi sesaatku.

Aku masih bisa hidup detik ini, dengan segala kenikmatan yang aku terima aku sangat bersyukur dan berterima kasih pada-Mu. Aku masih bisa merasakan kehidupan, masih bisa makan, masih bisa tidur, masih bisa bernafas, berjalan, bahkan bermimpi lagi. Nikmat yang Allah berikan padaku tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku keluhkan, Allah sudah sangat baik untuk seorang pendosa seperti ku ini.

Desember.

Bulan yang menarik.

Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love