Mama, maaf.

Aku tak tahu harus bagaimana sekarang. Aku yang terlalu pengecut untuk bisa mengatakan secara langsung.

Pertama, aku minta maaf. Kenyataan yang menamparku dengan keras. Aku selalu penasaran dan bertanya-tanya kenapa dan siapa, menuduh orang lain dan marah-marah. Kenyataannya ini semua adalah salahku. Aku yang sudah membuat semua orang menderita dan hidup dalam kesusahan. Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya. Ma, mama bilang saat aku kecil dulu bahkan sejak bayi aku jarang sekali menangis. Aku jarang bicara dan pendiam, tapi kenapa saat sudah besar seperti ini aku berubah menjadi anak yang cengeng, mudah menangis untuk hal-hal yang sangat kecil. Ma, maaf bila yang ku lakukan sejak dulu hanya diam dan tak bicara, maaf bila mama mengartikan aku sebagai anak yang egois dan tak mengerti orang tua. Aku tidak bisa mengatakannya secara langsung, tapi aku tahu Allah mengerti betapa sayangnya aku kepada orang tuaku. Ma, tiada anak yang tak mau melihat orang tuanya bahagia. Tiada anak yang tak mau melihat orang tuanya bangga punya anak sepertinya. Begitu pun aku. Aku selalu berdoa semoga mama bapa panjang umur, diberi kebahagiaan dan ketenangan di masa tuanya, diangkat semua beban masalahnya, aku meminta maaf bila aku tak bisa menunjukannya dan membuat mu berfikir aku tak sayang orang tua. Tak ada yang lebih menyakitiku selain kenyataan aku belum bisa membuatmu bahagia. Ma, mungkin aku anak yang jauh dari kata berbakti kepada orang tua. Sering membantah dan berkata yang membuatmu terluka. Ampuni sikapku yang kadang membuatmu meneteskan air mata. Sungguh, itu adalah bebanku yang paling berat, merasa tak berguna sudah kau hidupi aku selama ini namun aku tak bisa membalas apa-apa. Ma, aku seringkali takut jika aku hanya akan menjadi manusia gagal, namun seberapa besar ketakutanku aku tak berani bercerita kepadamu. Karena aku tahu, aku hanya akan menambah bebanmu walau rasanya aku ingin sekali dimengerti olehmu, ma. Aku tak meminta banyak hal didunia ini, aku hanya ingin mama mengerti perasaanku, mama bantu aku keluar dari kegelapan pikiranku. Karena aku takut sekali jika akhirnya aku tak bisa membahagiakanmu nanti. Tapi dengan melihat mama selalu sehat sudah yang paling membahagiakan untukku. Ma, mama mungkin tak akan membaca ini, pun aku yang tak akan mampu untuk berbicara seperti ini kepadamu secara langsung, tapi aku ingin mama tahu bahwa aku selalu ingin membahagiakanmu. Aku tak pernah ingin menjadi benteng tinggi yang menghalangimu merasakan kebahagiaan karena seorang anak yang kurang ajar ini.

Untuk semuanya aku meminta maaf dan terima kasih sudah menjadi orang tuaku.

Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love