Tumbuh
Karena orang-orang berubah jadi kenangan adalah suatu hal yang indah.
Begitu kata-kata yang tersebar diberbagai media sosial.
Aku terkadang melihat sekelilingku, mereka tertawa seakan bahagia lalu saat sendiri mereka menyeka air matanya. Semua orang punya lukanya masing-masing.
Namun kadang diri sendiri begitu egois mengatakan luka ini paling sakit dan orang lain tak mungkin tahu. Padahal ia yang mendekap lukanya erat-erat sendirian.
Aku melihat bagaimana rumput pagi hari yang hijau segar dibasahi embun. Rumput liar yang memiliki bunga putih kecil yang cantik. Setiap kali aku berjalan melihatnya itu membuatku seringkali berpikir untuk aku selalu bersyukur. Rumput yang hidup diinjak-injak saja mampu bertahan dan berbunga dengan indah, mengapa aku tidak? Ia memaafkan segalanya dengan terus tumbuh dan berbunga.
Aku melihat daun yang berguguran di tiup angin. Ia yang jatuh dari dahannya yang nyaman dengan ikhlas. Ia biarkan semuanya berjalan sesuai keinginan alam. Jatuh dan menghilang. Tapi ia tau ia akan bahagia karena saat ia tiada ia bisa jadi pupuk untuk daun yang lainnya terus tumbuh.
Ada rasa yang asing saat aku harus melewati jalan yang baru, meninggalkan jalan yang biasa aku lalui hampir 17 tahun lamanya. Ada rasa tak percaya aku mampu melalui. Ada rasa bangga mendebar dalam dada, bahwa dalam hidup yang sulit pun aku tidak mati putus asa.
Aku menemui manusia-manusia baru dalam hidupku. Sebagian sama saja seperti yang dulu aku temui. Kadang aku tertawa saat aku membicarakannya. Bahwa hidup begitu sangat lucu. Mencoba kabur kemana-mana tapi yang ditemui manusia yang sama.
Mengapa kadang manusia menyakiti manusia lain supaya bisa merasa bahagia? Apakah rasa bahagia sangat susah untuk didapatkan? Makanya aku mendekap rasa marah dan benciku dalam-dalam. Walau itu membunuhku perlahan aku tidak berubah menjadi monster yang haus rasa bahagia palsu.
Semua hal tumbul.
Semua hal perlahan berubah dan berganti. Tapi inilah hukum alam.
Aku pun berharap aku segera tumbuh.
Aku ingin seperti rumput yang tetap berbunga walau setiap hari ia diinjak-injak tanpa tau dosanya. Aku ingin seperti daun yang jatuh dengan ikhlas untuk kebahagian semuanya. Menerima bahwa ia tercipta tinggi supaya bisa jatuh. Agar ia mengerti saat tinggi pun lihatnya ke bawah. Karena hanya tanah tempat ia datang dan pergi. Karena dengan ikhlas ia bisa bermanfaat untuk yang lainnya.
Allah itu baik. Sangat baik. Ia membuka mata hatiku yang buta dengan amarah dan benci dengan hal yang sederhana sekali. Sesederhana rasa syukur masih bisa membuka mata dipagi hari. Untuk menjalani hidup yang lebih baik lagi.
Aku mengerti alasan Allah memberikan aku kehidupan yang keras supaya aku belajar lebih rendah diri lagi. Seperti air hujan yang jatuh dan mengalir kemanapun arah yang lebih rendah. Menerima mau jadi apa ia nanti. Entah sumber mata air yang dipuja-puja, atau hanya genangan yang membuat orang-orang marah saat tak sengaja mengotori bajunya.
Semoga esok aku akan terus tumbuh lagi. Sampai saatnya aku harus pergi.
Comments
Post a Comment