Allah Lebih Tahu
Diusia yang semakin dewasa ini semakin sulit untuk sekedar basa-basi.
Untuk beberapa hal aku sudah maklum tentang dunia yang penuh dengan sandiwara, namun hanya tiga hal yang selalu sukses membuat aku marah hanya dengan mengingatnya. Pertama, orang yang mau kaya tapi menumbalkan orang lain, kenapa nggak keluarganya aja? Kenapa nggak anaknya aja? Kenapa nggak dirinya sendiri aja? Biar tau sakitnya, jangan mau kaya nya aja. Dan muaknya, kemanapun aku pergi orang-orang seperti ini seringkali kutemui dan merepotkan. Kedua, kamu, orang yang mengirimkan setan kepadaku selama bertahun-tahun hanya karna tak ingin aku dengan yang lain. Aku mencoba untuk tak marah selama beberapa bulan tapi kalau dilakukan terus menerus lama-lama kesel juga. Kamu gak ngerti aja, bukan satu atau dua tahun kamu memporakporandakan hidupku, kamu gak tahu betapa kamu menyebalkan, dan kamu gak tahu betapa aku menahan rasa sakit setiap kali setan suruhanmu berulah, dan sialnya sudah ku usir tapi datang kembali karena sudah terlalu lama ditubuhku. Rasa cintamu memuakan dan menyusahkan orang lain. Ketiga, orang dengan ilmu tinggi yang penasaran akan keluargaku, bagaimana aku bisa tetap hidup sedangkan bukan sepuluh atau duapuluh orang berlomba-lomba membuatku tiada hanya karena "rasa penasaran" mereka, rasa penasaran keluargaku punya apa sehingga selalu berhasil lolos saat beribu macam santet mereka tak ada yang berhasil, orang kayak mereka sudah terlalu lama hidup dengan iblis hingga lupa bahwa yang kupunya hanya Allah swt. Cuma itu. Tapi lebih hebat daripada ribuan pasukan setanmu.
Ketiga orang itu yang detik ini hatiku masih sedikit kesal jika mengingatnya, walau sudah beribu kali aku dinasehati untuk selalu memaafkan dan menghilangkan rasa benci.
Manusia, wajar jika membenci. Tak wajar jika melakukannya sampai mati. Aku percaya dengan berjalannya waktu aku bisa memaafkan mereka, seperti aku memaafkan mereka yang lainnya dimasa laluku.
Dan aku berterimakasih atas segala perjalanan hidupku, satu tahun setengah aku hidup dalam depresi dan amarah, namun sesudahnya aku menemukan diriku yang sebenarnya, aku yang asli, sebelum "mereka" hidup dalam jiwaku karena kiriman orang lain, inilah aku. Aku yang perlahan sembuh, sungguh perjalanan hidup yang luar biasa walau dihiasi dengan isak tangis.
Allah tahu yang terbaik untukmu.
Comments
Post a Comment