Manusia

Aku benci manusia. Itulah alasan aku membenci diriku sendiri karena aku bagian dari makhluk yang bernama manusia.

Aku benci saat orang lain membicarakan agama, mengotak-kotakan manusia dengan apa yang ia pakai, habib katanya, ustad katanya, hanya karena pakaiannya. Tapi yang aku lihat hanya sisi buruk semua orang. Melihat diri sendiri lebih baik, memandang orang lain lebih rendah. Nyatanya siapa yang tahu iman seseorang? Tidak ada yang lebih baik dengan mengumbar keburukan orang lain di belakangnya sebaik apapun dirimu.

Aku benci bila ada yang berbicara tentang persabahatan. Tentang jauhnya pertemanan, minuman, rokok, kehidupan malam yang mereka banggakan, meremehkan orang sepertiku yang berdiam diri di gua. Apa yang membuatmu bangga telah nakal? Nakal dulu baru benar. Apa nya yang membuatmu bangga telah insyaf bila kau masih mengagung-agungkan hidupmu yang dulu, merasa bangga menguasai dunia. Persahabatan, apapun bentuknya aku sudah tak percaya.

Aku benci mereka yang tertawa dengan candaan tak bermoral tentang wanita. Menjadikannya objek sensual yang mengundang gelak tawa. Manusia seperti mereka seharusnya mati dan tak memenuhi dunia yang sudah tua.

Aku benci dunia ini, sekeras apapun aku menerimanya.

Aku benci mereka yang melakukan pesugihan, kaya, lalu menghina orang miskin sepertiku yang mencari rejeki jalan halal. Hidup apa yang kau banggakan bila saat kau mati hanya akan jadi pelepah pisang tak bermakna? Apa dadamu membuncah bahagia karena melebihi status sosial yang lainnya, berdiri tegak dengan penopang setan? Wajah busuk berperingai ramah. Aku muak.

Aku benci mantan pacarku. Mengekangku bertahun-tahun dengan setan suruhannya. Apa hakmu menghancurkan hidupku? Rasa cintamu memuakan dan merepotkan banyak orang. Bila kau gunakan hati untuk menyakiti lebih baik kau hidup dengan tak punya hati jadi aku bisa maklum bila kau melakukan ini semua. Tapi kau punya hati dan pikiran, dan kau gunakan itu untuk menyakitiku. Apa salahku sebenarnya? Menyakitimu dengan cinta yang ku tak yakin nyata atau tidak. Menanyakan kabarku, mengatakan hal-hal penyemangat, mengingatkanku untuk sabar dan memaafkan orang yang telah menyakitiku, lalu kau melakukan hal yang sama seperti mereka bahkan bertahun-tahun. Aku muak untuk terus memaafkanmu, dan tuduhan pendendam bila aku marah padamu. Memaafkan dan terus memaafkan sedangkan kau terus melakukan kesalahan yang sama. Sampai titik apa kau akan berhenti?

Aku benci keluargaku. Mereka yang meninggalkanku sendirian disaat aku jatuh. Mereka yang kadang baik saat aku tak punya, dan berubah jahat saat aku bahagia. Kebahagiaan seakan tak boleh aku rasakan.

Aku benci semua orang.

Comments

Popular posts from this blog

Bingung

picture

It's okay that love