Dariku Untukmu Diriku
Tak ada yang ingin aku tulis atau ceritakan tapi sepertinya aku harus menasehatimu.
Pertama, jaga mulutmu. Kamu gak tau tanpa sadar kamu begitu menyebalkan untuk orang lain, sosokmu dimata orang lain hanya si mulut ember, dan aku tau sekarang kata-katamu begitu ketus dan sering kali menyakiti orang disekitarmu entah disengaja atau tidak. Kata-kata lebih tajam dari luka fisik. Mulutmu yang kian hari kian kasar meneriakan segala apa yang kau pikirkan tanpa memikirkan orang lain, kenapa kau berubah menjadi seperti itu? Bukankah kau yang paling tahu sakitnya dihina dengan kata-kata? Lalu kenapa kau melakukannya? Tidak ada manfaatnya dengan membenci semua orang, bahkan dirimu sendiri tidak sempurna kenapa kau menuntut kesempurnaan orang lain? Kau benci dianggap rendah tapi kenapa kau merendahkan orang lain? Kenapa semakin lama aku semakin tidak mengenalmu?
Kedua, berhentilah berpura-pura. Kau terlalu suka berpura-pura, memakai topengmu kemana-mana, memasang wajah bahagia, tertawa, padahal kau benci semuanya. Kau pura-pura menjadi baik didepan semua orang padahal kau tak suka. Mengapa menjadi orang lain supaya terlihat normal? Mau berlari sejauh apapun, berlagak menjadi siapapun kau tetaplah kau, lebih baik belajar memperbaiki daripada berpura-pura.
Aku tak suka dirimu yang suka membicarakan orang lain hanya untuk bisa akbrab dengan orang lain, membuatnya bahagia padahal kau membebani hatimu sendiri saat kau menceritakan orang lain. Rasa bersalahmu percuma bila kau terus ulangi kesalahan yang sama.
Katamu kau lelah dengan teman-temanmu. Aku tanya, memangnya kau sudah baik menjadi seorang teman? Kau tak pernah benar-benar menjadi seorang teman untuk siapapun, pada akhirnya kau selalu jatuh pada pengkhianatan yang kau lakukan sendiri, tak percaya pada siapapun.
Kau bilang kau lelah bersosial media, instagram, facebook, twitter, lalu kau ingin kabur selama-lamanya. Kau ingin lari dari apa yang kau takutkan dan rindukan yang bernama masa lalu. Jika kau ingin menghilang maka pergilah selamanya, jangan setengah-setengah dan malah membuat hatimu goyah. Yang kau butuhkan hanyalah sekedar menerima kenyataan.
Aku ingin kau sadar bahwa apapun yang mereka teriakan untukmu, hinaan mereka memang benar adanya. Buka matamu selebar-lebarnya bila memang beginilah dirimu adanya, yang harus kau lakukan adalah menerima kenyataan. Kau memang miskin jadi tak perlu merasa sakit hati bila orang lain menanggap kau rendah, kau memang jelek jadi tak perlu sedih saat orang lain menghina fisikmu. Kau dan orang lain memang berbeda. Mau diputar-putar pun memang begitu adanya. Kau hanya perlu tahu bahwa rasa syukur bisa menyembuhkan segalanya. Tanamkan itu dihatimu lekat-lekat. Rasa syukur menyembuhkan hatimu yang mulai busuk dipenuhi rasa iri.
Kau bangun pagi-pagi sekali supaya tidak telat bekerja, merepotkan ibumu tiap pagi dengan menuntutnya membuat bekal makananmu tepat waktu tanpa membantu pekerjaan rumah satupun. Kau berusaha baik terlalu keras untuk orang lain tapi melakukan nol persen untuk keluargamu. Padahal saat kau sedih atau kesal ditempat kerja kau ceritakan segala masalahmu pada keluarga, kau buat mereka menanggung masalahmu tapi kau tak pernah membantu mereka. Anak yang buruk. Berubahlah. Mau sampai kapan kau hidup tak berguna untuk keluargamu?
Berhenti berkhayal akan hidup seperti dulu lagi. Dengan segala kemudahan hidup, uang dan teman-teman. Waktu tak akan pernah terputar kembali seberapa banyak doa yang kau ujar. Lupakan semuanya yang sudah berlalu dan jalani hidupmu yang sekarang sebaik mungkin.
Aku harap kau tumbuh semakin baik, Dewi.
Comments
Post a Comment