Cermin Dewi
Aku sering kali tak habis pikir dengan makhluk yang bernama manusia. Jiwa lemah yang belaga kuat dihadapan dunia dan seringkali sombong dihadapan Tuhan.
Jalan hidup yang ku lalui kadang membuatku lelah. Ingin rasanya aku lepas dari semua yang membelengguku. Tapi aku terlalu naif untuk segala yang ku rasa. Amarah dan rasa syukur. Hanya terjebak pada lingkaran yang sama.
Aku membenci manusia lainnya karena mereka melakukan hal-hal buruk tapi yang ku lakukan juga sama; buruk dan jahat. Menilai mereka dengan apa yang ku lihat dengan kasat mata sedangkan aku juga suka kesal kalau orang lain menilaiku sembarangan tanpa tahu yang aku rasakan. Aku membenci karena manusia seperti itu, punya hati tapi malah dirapuhkan oleh perasaannya sendiri.
Tentang mereka golongan yang ku benci setengah mati; para penyembah setan. Tentu itu bukan urusanku dengan apa yang orang lain percayai dalam hidupnya, aku pun tahu pasti mereka menjalani jalan hidup yang sulit sehingga memilih jalan seperti itu. Tapi tetap saja aku terlalu sombong dengan menganggap mereka hina. Hatiku yang seringkali menertawakan mereka yang berlagak bahagia hidup dalam kemewahan dunia dan membanggakan diri sendiri dan menghina orang lain. Aku sedih dan marah. Sedih karena mereka begitu palsu, sedih karena aku tahu wajah aslinya namun harus ikut tersenyum saat mereka menceritakan hidupnya yang bahagia. Marah karena seringkali mereka tak tahu diri, menginginkan yang cepat dan mengorbankan orang lain. Marah akan manusia yang begitu palsu dihadapanku, hidup yang mereka banggakan, uang, dan kemewahan dari bantuan setan. Aku terlalu sombong dengan menganggap mereka hina dan merasa diri lebih baik padahal shalatku saja masih sering ku tinggalkan, ngajiku saja masih terbata-bata, mulutku saja masih sering membicarakan orang lain, pikiranku saja masih sering memikirkan yang tidak-tidak. Jiwa lemah yang terlalu sombong.
Tentang kesulitan dan kesedihan yang sedang menimpaku; tiada yang lebih indah selain rencana Allah.Tapi aku sering kali marah padanya, kenapa dan mengapa pertanyaan yang selalu aku tanyakan ketika masalah dan rasa sedih ku rasakan padahal aku tahu apa yang ku alami karena ulah ku sendiri. Kebahagiaan yang selalu ku damba setiap hari, hari-hari berat yang ku lalui kadang aku ingin menyerah saja pada hidup tapi apa pilihan yang ku punya selain melanjutkan hidup dan bersyukur? Kadang aku berfikir bahwa perasaan yang ku miliki terlalu berlebihan dan lebay. Kadang aku ingin tak punya perasaan saja, mati rasa supaya aku tak bisa merasakan sedih. Sampai aku menyadari sesuatu, karna doaku itu hatiku membatu, mengeras dan tak bisa merakasan rasa syukur. Padahal jika saja aku mau melapangkan dadaku rasa syukur akan hal-hal sederhana bisa mendatangkan bahagia. Namun sulit sekali mengembalikan hatiku menjadi bersih jika hatiku saja masih berubah-ubah, dewi; sisi jahat dan baik.
Semakin aku dewasa aku tidak mau munafik bila materi bisa membuatku bahagia. Hidup yang tenang hanya bisa didapatkan kalau aku banyak uang. Tercukupi dan tak punya hutang. Aku harus kerja keras.
Nanti, bila Allah meridhoi aku ingin melihat laut biru. Bermain kejar ombak, membuat istana pasir, melihat langit biru yang luas. Aku ingin, tapi tidak apa bila tidak bisa sekarang.
Cermin yang ku lihat malam ini, semoga aku bisa melihatnya setiap hari. Agar manusia sombong ini lebih rendah diri. Agar manusia lemah ini bisa kuat menjalani dunia.
Allah tahu yang terbaik. Cukup percaya itu.
How inspirating and motivating,
ReplyDeleteKeren, tapi kalau dibandingkan laut, aku lebih milih gunung atau daerah pegunungan, Kan agak tenang Hahaha